“Dilihat dari segi bisnis, dikepung banjir itu rugi, karena gagal kirim barang. Tapi selalu ada hikmat-Nya.” -Mas Redjo
Lebih bijak melihat hikmat Tuhan, ketimbang saya menyesali keadaan banjir yang mengepung Ciledug, dan di banyak daerah lainnya.
Pertama-tama yang saya lakukan adalah, saya meminta maaf pada pelanggan. Karena banjir, saya batal untuk mengirim barang, meski terlanjur janji.
Toko juga sepi, karena akses jalan yang banjir. Jalanan di depan toko lengang. Bahkan nyaris tidak ada angkot beroperasional, kecuali rute pendek yang tidak banjir.
Saya bersyukur sekali, karena lokasi rumah dan tempat usaha saya yang tinggi, jauh dari banjir, dan aman.
Saya menghubungi para pelanggan itu menanyakan keadaan toko dan tempat usaha yang terdampak banjir untuk turut prihatin, simpati, dan sekiranya ada suatu hal yang bisa saya bantu.
Perhatian dan kepedulian yang sederhana, tapi efeknya luar biasa. Pelanggan merasa diperhatikan, tenang, dan nyaman. Karena tidak ditinggalkan.
Saya jadi ingat dengan pelanggan krupuk, ketika pabriknya kebakaran. Saya menyambanginya membawa bingkisan sederhana sebagai tanda simpati. Tapi dikembalikan berlipat-lipat, karena saya dikenalkan ke bos pabrik krupuk mentahnya di Jawa. Sehingga jadi pelanggan saya. Hubungan saya dengan pelanggan itu makin akrab, bagai bersaudara.
Dengan berani untuk menerima kenyataan pahit dan menyukurinya itu membuka hikmat Tuhan yang luar biasa. Karena anugerah-Nya melampai matematika hitung dagang manusia.
Terpujilah Tuhan!
Mas Redjo

