Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Di kala kaki-kaki langit mulai memerah dan siulan merdu pipit-pipit bernyanyi riang, itulah pratanda datangnya sukacita kehidupan.”
(Bahasa dan tata Isyarat Sang Kehidupan)
…
“Biarlah segala yang bernafas bernyanyi memuji Tuhan!”
Dunia dan isinya ini memang riil hadir, ada, serta bermakna bagi kehidupan.
Ketika indra kehidupan ini mulai berdendang ria demi menyatakan eksistensinya, maka tak ada makhluk apa pun yang sanggup menahannya. Itulah isyarat adanya sang kehidupan.
Tatkala fajar tiba, maka kaki-kaki langit pun akan memerah seolah mengabarkan eksistensi kehadirannya.
Tatkala terdengar siulan girang pipit-pipit di pucuk dedaunan hutan, itulah eksistensi adanya kehidupan.
Juga, tatkala derap girang lincah kaki-kaki tani dan nelayan papa sedang lesu sendu beradu nasib, itu pun tanda keberadaan hidup.
Sejatinya, kehidupan itu bukanlah sebuah kepalsuan. Karena hidup ini sebuah fakta telanjang yang sangat kasat mata.
Hidup ini sejatinya bukanlah sebuah nasib tanpa harapan. Melainkan merupakan sebuah realitas menantang yang perlu dijawab lewat deru gairah derap langka.
Itulah isyarat kehidupan yang sungguh nyata dan bermakna, bahwa sungguh hadir serta adanya sang kehidupan.
Maka, keberuntungan dan kemalangan hidup adalah sebuah realitas menantang yang syarat makna.
Kini, sadarlah kita, bahwa hidup dan kehidupan ini sejatinya juga bernyawa.
Maka, setiap derap gairah langkahnya itu sungguh bermakna!
…
Wolotopo,ย 21ย Meiย 2024

