Mohon: Kesanggupan berkata ‘Tidak’
Ketika hidup seorang pemimpin dikelilingi oleh andahan yang cenderung berkata ‘sendiko’ dan, ketika suara hati tidak lagi dapat berkata ‘mboten’, itu pertanda, bahwa hati ini mulai tidak sehat.
Kata Amsal 14: 12: Ada jalan yang disangka orang lurus, tapi ujungnya menuju maut. Mengapa? Karena telah terjadi pembisuan suara hati secara sangat halus. Biasanya disebabkan oleh seringnya dipuja-puji, dijunjung-junjung, tidak ada kritik, abai dengan suara hati atau, bahkan sering melawan suara hatinya. Jika sudah demikian, perlahan tapi pasti, yang terjadi adalah cenderung mencari dalih pembenaran dan bukan kebenaran.
Hati adalah pusat kehidupan batin. Tempat diolahnya perasaan dan pikiran terdalam. Dari hati muncul penilaian jujur pada diri sendiri. Suara hati membisikkannya kepada kita, terutama jika ada yang tak beres. Kita bisa saja mengabaikannya dan lebih menuruti apa kata orang. Namun, hati akan merana. Orang bijak tidak akan bertindak berdasarkan apa kata orang. Ia akan berhati-hati melangkah; peka mendengar suara hatinya. Ia tidak akan ceroboh mengambil jalan yang disangka lurus. Ia tidak akan menjalaninya sebelum yakin, bahwa jalan itu benar-benar lurus.
Salah jalan memang bukan sebuah akhir. Dengan pertolongan Tuhan, kita bisa kembali menempuh jalan yang benar.
Namun berbeda sekali, jika yang salah jalan adalah seorang kapten kapal induk, proses meluruskan arah kapal menghabiskan waktu dan tenaga. Menguras pikiran dan perasaan. Kita akan mengalami kesusahan yang tak perlu terjadi.
Maka, sebelum mengambil keputusan penting, datang kepada Tuhan. Mintalah kepekaan untuk mendengar pimpinan-Nya, utamanya lewat suara hati.
Suara hati adalah sahabat yang paling berani berkata ‘tidak’, sementara suara yang lain mengatakan ‘ya’.
Selamat berkarya diladang Tuhan para pemimpin baru. Hanya ini, Amsal 14: 12, bekal kami. Bacalah setiap saat menghadapi peristiwa dilematis dan harus mengambil keputusan yang krusial.
Salam sehat.
…
Jlitheng

