“Ketika merasa bosan dan jenuh dalam melayani keluarga, bisa jadi, karena kita sibuk dan asyik dengan diri sendiri.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Hal itu terjadi dan dialami oleh banyak orang, termasuk saya yang seringkali merasa jenuh dan sia-sia. Khususnya saat saya melayani keluarga.
Saya merasa disepelekan, bahkan tidak dihargai dan dihormati oleh anak-anak. Padahal saya memberi contoh itu tidak sekadar bicara, tapi lewat sikap dan perilaku.
Ternyata penilaian terhadap mereka itu keliru, ketika saya disentuh dan disadarkan oleh belas kasih Tuhan lewat Lukas (10: 38-42) tentang Marta dan Maria.
Saya ini ibarat Marta yang disibuki dan dibebani oleh pikiran sendiri.
Saya memberi contoh ke anak itu tidak identik saya ingin membentuk karakter mereka sesuai dengan kemauan yang dikehendaki. Tapi saya ingin menanamkan bibit-bibit kebaikan dalam hidup mereka.
Mungkin merasa diatur dan dijejali, mereka jadi ngap, lalu berontak. Saya dianggap otoriter dan mau menang sendiri.
Ketika mereka cuwek, tidak acuh, dan membantah, saya jadi merasa disepelekan, tidak dihargai, dan hati ini terluka.
Baperan dan banyak pikiran itu membuat hidup ini jadi makin berat, ngap, dan suntuk.
Beruntung, belas kasih Tuhan telah menyentuh dan meneguhkan saya untuk tidak khawatir pada mereka. Memberi keteladanan itu ikhlas hati. Tanpa tendensi atau prasangka, tapi dengan sukacita. Karena Tuhan murah hati.
Tiba-tiba saya ingin mencontoh sikap Maria, yakni ingin mendengar suara anak-anak. Jika orangtua itu ingin didengarkan dan diteladani anak, hendaknya sebagai orangtua mau mendengarkan dan memahami keinginan anak juga. Sehingga terjalin interaksi dua arah yang baik.
Sejatinya, hidup keluarga bahagia itu harus seimbang. Harmoni untuk saling memahami.
…
Mas Redjo

