Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Goreskan sepenggal sejarah hidupmu lewat ujung setangkai pena.”
(Anonim)
…
| Red-Joss.com | Pena. Ya, setangkai mata pena, menyimbolkan seni berkreasi dalam bidang literasi, menulis.
Sejenis alat tulis bertinta, entah berwarna merah, biru, kuning, pun hitam.
Sang penulis, si juru tulis alias si koprol bambu, sang penyair, komponis, dan siapa pun, biasanya menggunakan setangkai pena untuk menulis.
Ya, nyata, bahwa dunia dan perkembangan teknologi kini seolah menggeser peran jitu mata pena lewat penggunaan teknologi, sehingga peran penting pena, selaku alat untuk menulis pun bergeser. Semisal, ungkapan โkuli tintaโ untuk wartawan atau jurnalis pun menjadi โkuli disketโ.
Apa dan bagaimana pun peran setangkai pena selaku simbol dunia tulis menulis masih melakat erat di dalam hati manusia.
Lewat tulisan ini, pembaca disapa, diajak untuk mengenang dan
bernostalgia akan jasa besar si ujung runcing alias setangkai pena ini.
Lewat ujung runcing setangkai pena itu, sang manusia hebat itu telah menggariskan ziarah hidupnya. Mereka, sang komponis, penyair, si kuli tinta, serta sang pujangga yang telah mengepit si ujung runcing ini lewat celah jemarinya.
Mereka telah dan terus akan menuliskan apa saja tentang kita, dunia yang suci pun kotor. Tentang hari esok yang serba tak pasti, atau pun tentang hidup yang pahit pedih di masa silam.
Ketika kita membaca kembali tulisan mereka, atau mendengarkan lagi setangkai lagu memori indah, seolah menghidupkan kembali memori kita dan siap membawa kita untuk seolah bersayap laksana burung rajawali. Juga saat kita mendengarkan syahdunya lagu Gregorian, requiem berbahasa Latin yang dapat meneteskan air mata.
Ujung runcing setangkai pena itu dapat menjadi sarana buat mengenang rindu, bernostalgia, seolah turut terbang di dalam kenangan tentang masa lalu sang manusia.
Sesungguhnya, betapa berperan si mungil runcing ini di dalam proses turut memekarkan aspek budaya dan historis.
Di balik itu, ada sosok agung, sang manusia, si pengguna setangkai pena itu.
Tentu merekalah, di balik tangan dingin serta sikap profesional, sang penyair, sang pujangga, sang komponis, pun wartawan yang telah merangkai karya agung via ujung pena kecerdasan mereka.
Setangkai pena itu telah menyejarah, bahkan turut membudayakan manusia untuk menjadi sungguh manusia, justru lewat tulis menulis itu.
“Maka, sesungguhnya, kesuksesan itu juga terletak di ujung setangkai pena!”
…
Kediri,ย 17ย Juniย 2023s

