Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Memento, Te Esse Pulverem”
“Ingat, Kamu adalah Debu!”
(Adagium Latin)
Statemen Keagungan dan Belas Kasih dari Dia, Sang Maha Sabar
Ada sebuah statemen yang sungguh indah dan bermakna rohani mendalam, tatkala Tuhan sadar, bahwa ada banyak debu dan abu yang menempel sangat kuat di ujung tumit kaki-Nya, maka Ia tersenyum lebar sambil bergumam manja, “Bertengger dan bersabarlah selalu, wahai kamu, hingga akan tiba waktunya!”
Diciptakan dari Debu Tanah
Dideskripsikan secara rohani lewat isi Al Kitab, bahwa “Manusia itu, diciptakan oleh Tuhan dari debu tanah.” Lalu Tuhan menghembuskan nafas hidup lewat ubun-ubun kepala manusia itu. Maka, manusia pun hidup.
Filosofi Debu Tanah
Filosofi ‘Debu Tanah’ dapat diartikan sebagai sebentuk kerendahan hati, kesadaran total akan asal-usul, dan kelemahan manusiawi. ‘Errare humanum est,’ ‘berbuat salah adalah manusiawi,’ demikian pandangan kefilsafatan dari Seneca, filsuf Romawi Stoik.
Debu tanah menyimbolkan sesuatu yang sungguh sederhana, remeh, lemah, rapuh, dan mudah terlupakan.
Dalam konteks spiritualitas dan kefilsafatan, ‘debu tanah’ dapat diartikan sebagai suatu sarana ‘pengingat, agar manusia senantiasa bersikap rendah hati dan tidak angkuh.’ Sekali lagi ditegaskan, ‘memento, te esse pulverem.’ ‘Ingatlah, kamu adalah debu!’
Refleksi
Inilah pemikiran eksistensial dan refleksif mendalam dari Santo Agustinus, filsuf dan teolog Kristen awal. Ia merefleksikan tentang hakikat eksistensi manusia di atas bumi maya ini, lewat ‘tiga buat pertanyaan’ yang sudah setua usia manusia.
“Manusia, siapakah engkau?”
“Dari manakah engkau?”
“Hendak ke manakah engkau?”
“Hanya debulah aku, di alas kaki-Mu, Tuhan!”
Kediri, 19 Februari 2006

