“Jangan bicara dengan si jahat agar tidak terjerat perangkapnya. Jika ya, katakan: ya. Jika tidak, katakan: tidak.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Ketika siang itu saya mampir ke warung mie bakso seorang teman, DL menunjukkan kain mori yang diikat, berisi tanah, dan berbentuk pocong. Ditemukan di atas rak minuman, ketika ia sedang beberes.
“Mas sepertinya ada orang yang tidak senang dengan usaha saya. Mungkin juga dari pesaing…”
“Hus! Jangan berprasangka buruk dan berpikir konyol seperti itu,” potong saya sambil geleng-geleng kepala.
“Buktinya ini, bahkan sudah kali ketiga.”
“Sebagai orang beriman, jangan masukkan hal itu ke pikiran agar tidak meracuni hati sendiri.”
Dikirim secara gaib oleh orang yang iri hati atau pesaing bisnis? Ditaruh seseorang tanpa sepengetahuan si empunya?
Aneh, tapi itu fakta.
“Menurut Mas, harus bagaimana?”
“Kamu sendiri?!”
“Biasanya langsung saya larung di kali kecil di komplek. Tapi, mengapa orang mengusili saya?” gumamnya seperti ditujukan pada diri sendiri.
“Nah, itulah tujuan si jahat agar kau terperangkap dan diperdaya,” kata saya mengingatkan, bahwa si jahat itu sesungguhnya ada di kantung baju sendiri (Matius 5: 37). “Kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Yang penting, jaga pikiran, ucapan, dan perilaku kita untuk terus berbuat baik.”
“Kamu dan keluarga merasa diteror itu, karena ketakutan yang kamu tularkan ke keluarga, dan meracuni pikiran mereka. Bahkan tidak sedikit di antara kita pergi ke dukun untuk menetralisasi, mengembalikan ke si pengim. Akibatnya urusan makin panjang, hidup kita tidak tenang.”
“Saya sendiri pernah mengalami, tapi tidak saya masukkan pikiran. Benda sejenis itu saya kuburkan. Karena dari tanah kembali ke tanah. Sedang orang yang melakukan itu, kita kasihi dan didoakan agar sadar. Hidup kita tanpa beban. Kita miliki iman, dan Tuhan Yesus andalanku.”
“Jadi…?”
“Yang penting kita berlaku jujur dan bersikap benar. Karena hal itu yang akan menjauhkan keluarga kita dari si jahat.”
“Jangan takut, karena Tuhan Yesus senantiasa sertai kita hingga akhir zaman.”
Saya tepuk-tepuk bahu DL untuk mengembalikan kepercayaan diri dan semangat keimanannya.
“Terima kasih untuk peneguhanmu.”
Saya lega melihat senyum DL. Saya lalu pamit untuk kembali ke toko.
…
Mas Redjo

