Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kebenaran dan kepalsuan memang bagai dua sahabat karib dan juga sebagai musuh bebuyutan, keduanya senantiasa bersanding dan bersaing, siapa yang kuat dialah pemenangnya.”
(Pada Sepotong Catatan)
Manusia Tulus pun akan Bangkit
Kala spirit kepalsuan dan kemunafikan telah merajai seluruh lini kehidupan ini, maka spirit kemanusiaan tulus akan berlantang suara. Ini sebuah hukum alam dan hukum kehidupan.
Dari dalam dasar tubir spirit kegelapan, aku pun lantang berseru, “Hai Sang Kebenaran, di Manakah Engkau Berada?”
Kala virus hoaks ganas kian merajai di seluruh lini kehidupan, maka wajah tulus Sang Kebenaran itu bagai dibalut seutas selendang kepalsuan.
Sebuah tanya bernada retoris akan dilambungkan ke angkasa raya, “Sesungguhnya, siapa dan apakah yang telah sirna di era nan pekat gulita ini. Wajah tulus Sang Kebenaran ataukah wajah iblis dari Sang Kepalsuan?”
Camkan Hal ini!
Sungguh, sekeping wajah tulus Sang Mentari Kebenaran itu tidak pernah akan terhalau oleh silau dan tipuan-tipuan dari segumpal gemawan kepalsuan.
Walaupun kebenaran dan kepalsuan itu bagaikan dua orang sahabat karib dan juga sebagai musuh bebuyutan. Keduanya akan senantiasa bersanding dan bahkan saling bersaing; siapa yang lebih kuat, maka dialah sang pemenangnya.
Bagaimanakah Realitas Hidup Kita?
“Sang Kebenaran, Siapakah Engkau?” Adalah sebuah seruan skeptis ataukah sebuah sikap percaya diri, saya juga tidak tahu.
Apakah itu adalah sebuah pertanyaan yang bertolak dari sikap berputus asa? Ataukah sebuah teriakan yang bersifat menantang?
Melihat fenomena bergejolak dan aneka pergolakan yang sedang berkecamuk di negeri kita ini, maka saya berani berkata, sesungguhnya, kita ini sedang berada di dalam genggaman cakar culas sang iblis laknat.
Di negeri kita ini sangat dibutuhkan orang-orang yang berjiwa dan bermartabat kesejatian, dan tidak pribadi-pribadi yang bergelimang dengan aneka wajah kepalsuan itu.
Kini sadarlah kita, bahwa seluruh fenomena dari aksi kebrutalan ini adalah sebuah ekspresi jujur dari rakyat, dari rasa ketidakpuasan dan sakit hati mereka.
In Cauda Venenum est
Sebuah idiom berbahasa Latin, “In Cauda Venenum est,” bahwa di ekor (akhir) dari seluruh realitas palsu ini adalah seteguk racun maut.
Jadi, pada hari-hari nan pahit pedih ini, kita bersama-sama telah meneguk secangkir racun dari kepalsuan hidup ini. Secangkir anggur kepalsuan yang sanggup memabukkan jiwa suci ini, sebagai dampak dari sikap kepalsuan hidup kita.
Bukankah hanya ayam yang akan bertelur itu senantiasa berkotek?
Kediri, 14 September 2025

