Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ingatlah selalu, bahwa di balik sebuah kegemerlapan, ada luka, dusta, duka, dan linangan air mata”
(Amanat Kearifan Hidup)
Glamour dan Tipuan Sesaat
Sungguh, bahwa kehidupan manusia itu tidak luput dari godaan glamour berupa kegemerlapan yang dapat menyilauan mata fana dan batin manusia.
Ternyata, tidak sedikit orang yang telah terjebak ke dalam hiruk pikuk dan tipuan mata yang hanya sesaat ini. Karena di balik hura-hura dan kenikmatan semu itu, justru akan berakibat, ‘luka, duka, dusta, dan linangan air mata sesal’ yang berkepanjangan.
Sungguh tepat, jika para pendahulu kita berkata, bahwa ‘sesal kemudian itu, memang selalu tidak ada gunanya.’
Ya, rayuan dan tipuan kehidupan, yang justru mampu menjerumuskan banyak orang dari generasi ke generasi. Patut disayangkan dan sungguh memprihatinkan kondisi riil dari kehidupan kita kini.
Inilah Deretan Kesaksian berupa Rasa Sesal itu
- “Aku sudah tergiur oleh rayuan dan kata-kata gombal, serta dampaknya, kini aku terjerembab di balik jeruji besi,” keluh seorang napi berusia muda.
- “Di masa pecaran, aku sudah tergiur oleh janji-jangi manisnya, tapi kini, aku hidup menanggung aib dan rasa malu, setelah aku ditinggalkanya,” demikian ratapan seorang Ibu muda.
- “Di balik sekeping wajah agung dan tubuh gantengnya, aku sungguh terpikat terpesona padanya, tapi apa daya, kini ia telah membawa pergi semua harta rumah tangga kami,” pengakuan paling pahit dari seorang Ibu setengah baya.
- “Dulu ia mengaku berprofesi sebagai dokter spesialis anak, yang bergaji Rp 25.000.000 perbulan. Tapi, setelah berumah tangga, faktanya aku hidup ditimbuni utang,’ demikian kekecewaan seorang Ibu beranak dua.
Hidup yang Sanggup Menyesakkan Dada Batin
Setelah mencermati sejumlah pengakuan yang menyesakkan dada batin kemanusiaan kita, atas sejumlah pengalaman pahit dari sejumlah pihak, maka kini dapat disimpulkan, bahwa mereka adalah orang yang telah tergoda oleh bujuk rayuan semu. Kini mereka berstatus sebagai korban-korban dari kegemerlapan anak zaman, yang sebetulnya hanyalah fatamorgana semata.
Sungguh betapa mudanya kita terjerembab, karena dibohongi oleh rayuan kegemerlapan hidup semu dan sesaat itu.
Refleksi
- Setelah mencermati aneka kisah, berupa pengalaman yang paling menyakitkan hati, maka dada batin ini pun lancang mau bertanya, “Wahai sang anak manusia, siapakah engkau?”
- Dari manakah datangnya bertubi malapetaka yang menyesakkan dada batin ini?
- Ternyata, sumber dan asal dari semua kepahitan hidup ini, justru bercokol di dalam hati seorang manusia.
- Di mana hartamu berada, di situ pulalah hatimu!
Kediri, 8 November 2O25

