“Memulai dari nol, saya berakhir ke nol lagi.” -Mas Redjo
…
Sebahagia-bahagianya orang yang kaya raya, lebih berbahagia itu mereka yang sadar diri dan mudah bersyukur. Sejatinya, di dunia ini kita tidak memiliki apa-apa!
“Sadar diri dengan tujuan hidup ini!”
Hal itu yang saya ingat-tekankan pada diri sendiri agar saya tidak silau dengan gemerlap dunia.
Ketika dipuji agar saya tidak mabuk kepayang dan lupa diri.
Dihormati orang agar saya tidak jadi gila hormat.
Sukses dalam studi atau dunia kerja itu tidak membuat saya jadi lebih hebat dibandingkan dengan orang lain. Karena saya sadar, bahwa di atas langit itu masih ada langit agar saya rendah hati.
Semangat sadar diri dan rendah hati, karena saya terinspirasi oleh nafas hidup bakti kaum religius pada Gereja: yakni kesucian, kemiskinan, dan ketaatan.
Karena ingin bahagia, saya terus menerus mengingatkan diri sendiri agar tetap sadar, bahwa dengan hidup suci, dengan pikiran, perkataan, dan perilaku itu membuat saya tidak jatuh ke dalam perbuatan jahat dan dosa.
Dengan semangat kemiskinan di hadapan Tuhan membuat saya jadi rendah hati untuk bergantung dan mengandalkan-Nya.
Dengan semangat ketaatan, saya diajak untuk mensyukuri peristiwa hidup ini sebagai anugerah Tuhan, dan yang terbaik bagi saya. Karena hidup ini adalah hikmat-Nya.
Dengan semangat sadar diri, saya mahfum akan tujuan hidup ini, yakni kembali pada Tuhan Sang Pencipta.
Saya sadar diri untuk menerima kenyataan hidup ini. Untuk melepas tanpa merasa kehilangan yang di dunia ini, dan ikhlas hati.
Memulai dari nol untuk berakhir ke nol lagi.
…
Mas Redjo

