Dahulu, bejana hidup kita penuh sesak dengan peran dan pengakuan. Sebagai apa pun perannya, hari-hari kita riuh dengan kata-kata, jadwal, dan pandangan mata yang menatap penuh rindu. Ibarat bejana merasa ‘penuh’, karena kesibukan.
Dengan menyusut, Tuhan seolah-olah mengetuk bejana itu dan meminta kita menumpahkan isinya. Kita harus mengosongkan diri dari identitas yang selama ini dibangun dengan tangan sendiri. Ternyata, melepaskan yang kita cintai adalah bentuk penyerahan diri yang paling murni.
Esensi ‘pengosongan’ itu jadi satu tarikan napas iman: “Melepas jadi jalan sunyi bagi kita untuk meletakkan peranan dan segala pengakuan. Namun, justru dalam bejana yang telah kosong dari keakuan itulah, Tuhan menuangkan iman sebagai ‘Air Hidup’. Kita tidak lagi jadi ‘siapa’ yang memberi dan berjaya, melainkan jadi bejana yang belajar menerima kehadiran-Nya sepenuh hati. Seperti sumur dengan air baru.
Berkah Dalem.
Jlitheng

