Sabda Allah menyingkap dua kebenaran yang hening namun kuat. Untuk menjumpai kami
dalam kejujuran dan pengharapan.
Daud dipilih dan diurapi Allah. Tapi ia jatuh dalam dosa yang serius. Kejatuhannya terjadi perlahan,
tanpa disadari, seperti hati yang kehilangan kewaspadaan. Kisah ini bukan untuk mempermalukan,
melainkan untuk menunjukkan,
betapa kami membutuhkan rahmat Allah setiap hari.
Mazmur jadi doa kami:
“Kasihanilah aku, ya Allah…
ciptakanlah hati yang bersih dalam diriku.”
Bukan pembelaan diri dan alasan, melainkan penyerahan penuh kepada kerahiman-Nya.
Yesus dengan perumpamaan tentang harapan. Bahwa Kerajaan Allah seperti benih yang tumbuh diam-diam, melampaui kendali manusia. Kami bisa jatuh dan bangun, bertobat dan memulai lagi,
namun Allah tetap bekerja dalam kesetiaan-Nya.
Perumpamaan biji sesawi itu meneguhkan kami, bahwa Allah tidak memandang remeh awal yang kecil. Bahkan setelah dosa, kegagalan, dan kelemahan yang berulang, rahmat-Nya tetap dapat berakar dan menghasilkan buah.
Tuhan Yesus, Engkaulah Benih sejati yang masuk ke dalam gelapnya dosa kami dan bangkit sebagai hidup baru bagi dunia.
Dalam Engkau, pertobatan jadi pemulihan, dan kepercayaan jadi tanah subur bagi perbuatan-perbuatan baik.
Ajarlah kami untuk lebih percaya
kepada karya-Mu daripada kekuatan kami sendiri. Ajarlah kami untuk segera kembali saat kami jatuh. Untuk setia dalam kasih yang sederhana, karena Engkaulah yang menumbuhkan hasilnya.
Semoga hidup kami yang sederhana ini berlimpah dalam perbuatan baik, jadi saksi diam
akan kerahiman-Mu yang bekerja.
“Yesus, Engkaulah Andalanku. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

