Oleh : Mas Redjo
[Red-Joss.com] Seberat-beratnya beban hidup ini, jauh teramat berat itu beban pikiran sendiri.
Tidak harus dipungkiri, dibantah, apalagi ditolak. Lebih baik disyukuri dan berserah ikhlas pada Allah agar beban jiwa ini diringankan-Nya.
Faktanya, banyak di antara kita merasa sulit untuk melepas ikhlas persoalan hidup ini. Kita beralasan untuk pembenaran diri, bahwa tiap pribadi mempunyai masalahnya sendiri.
Betul, hal itu tidak bisa dipungkiri dan diingkari. Tapi sesungguhnya, kita dituntut untuk bersikap bijak. Mengelola setiap permasalahan itu untuk melihat hikmat Allah.
Sesungguhnya, yang membuat kita berbeban berat itu bukan karena orang-orang yang berada di sekitar kita. Melainkan pengaruh buruk dan hal negatif dari mereka itu diizinkan masuki hidup ini. Kita baperan, ikut-ikutan, dan sensi. Persoalan jadi menumpuk, jiwa ini makin tertekan, stres, dan lungkrah.
Sesungguhnya, kita berbeban berat itu dibuat sendiri. Sehingga kita mesti piawai untuk memilih memilah persoalan itu dan memfilternya dengan bijak.
Tidak seharusnya pula pengaruh buruk dari luar itu bebani hidup kita jadi makin berat. Sehingga tenggelamkan hidup kita ke dalam penyesalan dan derita.
Saatnya kita jeli memfilter setiap masalah untuk tidak baperan dan ikut-ikutan mereka yang menyebar iri dengki, hoaks, sara, kebencian, dan sejenisnya. Karena solidaritas demi kebaikan itu bijak, tapi demi pemecah belah persatuan itu jahat.
Alangkah bijak, jika seberat apa pun persoalan itu disikapi dengan rendah hati agar kita peroleh hikmahnya. Masalah berat dan besar itu, karena kita beda sudut pandang atau persepsi. Lebih baik persoalan itu dimusyawarahkan untuk mufakat dan demi kebaikan bersama.
Semoga kita makin dewasa, arif, dan bijaksana dalam menyikapi persoalan hidup ini.
Hidup berhikmat itu dahsyat!
Mas Redjo

