Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Prasangka itu ibarat gerak cepat sebuah kilatan, walaupun hanya sesaat, namun besar akibatnya.”
(Amanat Kehidupan)
Prasangka itu Berdampak Negatif
‘Prasangka’ itu adalah sebuah dugaan semata yang tak ada dasar kebenarannya. Sebuah ‘simpulan tentang suatu hal yang ditarik hanya berdasarkan dugaan semata.’
Di dalam peradaban umat manusia, sebuah prasangka itu justru telah menghadirkan aneka permasalahan hidup. Mengapa demikian? Bukankah sebuah prasangka itu justru tidak berlandaskan fakta dan kebenaran? Jadi, dapat disimpulkan, bahwa sikap berprasangka itu berdampak negatif bagi kehidupan manusia.
Prasangka
Cerita ini dilatari oleh sebuah situasi yang sangat mencekam di zaman kejamnya Tentara Nazi Jerman, pimpinan Adolf Hitler saat pembantaian terhadap orang-orang keturunan Yahudi.
Dongeng yang sangat menyeramkan ini akhirnya tersebar di seluruh negeri Jerman.
Ada seorang Pastor (atas perintah Nazi), berkata kepada umatnya, “Siapa saja yang memiliki Ayah Yahudi, dimohon untuk segera meninggalkan tempat ini.” Dampaknya, maka segera beberapa orang umat segera berdiri dan ke luar.
“Sekarang, siapa saja yang memiliki Ibu dari keturunan Yahudi, juga mohon segera ke luar dan jangan pernah kembali lagi.” Maka, ketika itu juga sejumlah umat pergi dari tempat itu.
Seketika itu juga, wajah umat yang tersisa tampak pucat pasi. Mengapa? Ketika itu juga, tampak Corpus Christi (Tubuh Kristus), yang bergantung di salib itu tiba-tiba terlepas dan menghilang dari dalam Gereja.
Southem Churchman
(1500 Cerita Bermakna)
Manusia, Siapakah Engkau?
Itulah karakter otentik kita, makhluk manusia. Itulah kejamnya manusia, si arifin yang konon diciptakan dengan berakal dan bernurani.
Ke mana dan di manakah sirnanya kemuliaaan serta keluhuran cinta di dalam dada batin anak manusia?
Tatkala sebuah sikap prasangka itu ditiupkan ke angkasa, dan ia mulai terbang ke mana-mana atas nama sebuah dugaan semata, tapi ternyata, betapa cepatnya manusia itu mempercayainya.
Sungguh, betapa rapuhnya kehidupan ini, jika Penguasa dunia ini meniupkan nafiri kekuasaannya. Seketika itu pula, maka bertekuk lututlah semua manusia yang berada di bawah genggaman kuasanya. Sungguh, betapa naifnya kita ini!
Atas nama sebuah prasangka, terusiklah ketenteraman dan kedamaian hidup. Terkoyak serta sirnalah seketika nuansa kedamaian hidup manusia. Sungguh, betapa kejamnya sikap berprasangka itu. Manusia itu akan mudah tunduk pada kuasa penguasa hanya atas nama ketakutan dan ketakberdayaannya.
Prasangka adalah si Pembunuh Berdarah Dingin
Maka dapat disimpulkan, bahwa sikap berprasangka itu adalah pembunuh berdarah dingin dalam kehidupan kita ini.
Refleksi
Mari, kita sehati sejiwa membangun budaya hidup dan bukan budaya kematian hanya atas nama sebuah prasangka!
Kediri, 27 September 2025

