Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com – Ada frase idiomatik, ‘membusungkan dada’ … yang bermakna, mendeskripsikan sifat sombong, angkuh, dan menyombongkan diri.
Di sekeliling kita, di tempat kerja, atau pun yang semeja makan dengan kita, saudara kita, dan bahkan mungkin kita sendiri adalah si penyombong itu.
Sifat sombong alias si pembusung dada selalu ada dan hadir di antara kita. Biasanya dia suka mengomando, mendikte, memberondong kita dengan pertanyaan yang hanya bertujuan untuk mengorbitkan dirinya dan sekaligus menyudutkan kita.
Pernah, seseorang yang paling sabar dan setia yang selalu berusaha untuk setia mendengar dan melayani ocehannya, berdoa,
“Tuhan, siapakah orang ini, banyak orang telah pergi menjauhinya, ada juga tetanggaku yang menutup pintu hatinya saat berpapasan dengan dia. Sesungguhnya, saya juga sudah lelah mendengarkan aneka ocehannya yang selalu mau menyudutkan dan meremehkan sesamanya.
Tuhan, Sang Mahasabar, berikanlah aku ekstra kesabaran-Mu, agar aku pun boleh bersabar untuk terus menjadi pendengar dan sahabatnya, Amen.”
Berbulan, bahkan bertahun berlangsung, ternyata, sifat sombong serta angkuhnya, justru kian menjadi-jadi.
Saudara, suatu hari, dikabarkan, si sombong itu telah dengan sadis mengakhiri hidupnya, dengan meminum cairan baigon. Si sombong pun menghembuskan nafas terakhirnya…
Saudara, … telah ditemukan secarik kertas kumal bertuliskan tangan, demikian…
“Gusti Tuhan, yang Maha rendah hati, aku pun kini, merasa sangat lelah, karena aku sering membusungkan dada di hadapan-Mu. Aku pun telah lelah, karena sering sendirian, meratap jauh di sudut cemasku. Aku pun sudah tidak kuat lagi, karena sering dijauhi tetanggaku, dan bahkan oleh saudaraku.
Maka, hari ini, Tuhan, aku dengan rela dan ikhlas untuk mengakhiri saja kekonyolan serta sifat sombongku.
Tuhan, ampunilah dosa kesombonganku. Amen.”
Para warga desa yang membaca tulisan tangan itu pun tertegun, terpekur, sambil berurai air mata dan ada yang berujar,
“Tuhan, andai aku tahu, sesungguhnya begitu berat penderitaanya, aku akan sudi bersahabat dengannya. Tapi, semua ini telah terjadi, dan ternyata inilah akhir dari nasib hidupnya.”
Saudara, saat penguburan… ternyata tidak seorang pun yang berani mengangkat wajah ke langit, ternyata, mereka pun menyadari, merekalah penyombong itu, karena tidak sudi berendah hati menghadapi saudara yang bersalah dan berdosa.
Gusti, Tuhan, seringkali, kami pun sangat mudah mengadili sesama yang bersalah tanpa mau memahami apa dan mengapa dia bertingkah demikian.
Di atas makam itu tertulis, sepotong asa,
“Di sini, … telah kami baringkan seorang yang telah sering kami sakiti hatinya dalam hidupnya.”
Kediri, 9 Februari 2023

