Serangkaian penampakan Tuhan yang bangkit boleh kita katakan sebagai hadiah Paskah. Perjumpaan demi perjumpaan di berbagai kesempatan itu sungguh meninggalkan cerita dan pesannya masing-masing. Kalau kita boleh mengatakan di antara semua pesan itu, satu yang paling sentral dan kuat ialah pesan damai.
Saat kesebelas Rasul berkumpul untuk berbagi cerita masing-masing tentang perjumpaan mereka dengan Kristus yang bangkit, lalu menyusul kedua murid yang baru kembali dari Emaus, satu komunitas pengikut Kristus terbentuk. Komunitas itu berisi suasana penuh campur antara cerita, percaya, bingung, bertanya, dan tentu saja kagum. Di dalam konteks persekutuan itu, Yesus sekali lagi tampak di tengah-tengah mereka dengan menyampaikan hadiah: Damai sejahtera bagi kamu!
Pesan damai itu jadi poin utama dalam kotbah Petrus di tengah orang banyak, setelah mukjizat penyembuhan seorang lumpuh yang ia lakukan. Mukjizat itu berbuah pada suasana bercampur antara kagum, heran, curiga, kurang percaya, dan rasa percaya. Maka Petrus menyerukan kebenaran dari Tuhan yang bangkit sebagai jalan untuk mendamaikan suasana yang bercampur itu. Hasilnya ialah banyak orang meyakini dan percaya kepada Kristus.
Pesan damai dari Yesus Kristus yang bangkit kepada para Rasul yang tengah bingung, takut, curiga, dan kurang percaya itu bertujuan untuk membuat mereka jadi percaya. Damai itu mampu menghilangkan semua perasaan dan pikiran negatif. Damai itu menghadirkan suasana batin yang tenang, nyaman, dan positif supaya pada akhirnya orang dapat memutuskan sikap yang benar dalam bertindak.
Terkadang pesan damai itu cenderung dianggap serba teori atau sekadar sebuah keyakinan. Akibatnya kehidupan yang damai tidak dialami dengan nyata. Alasannya ialah, karena tidak ada keteladanan dan usaha untuk menciptakannya. Tidak cukup orang hanya berbicara, mengajarkan, meyakinkan, dan menggambarkan cara-caranya. Orang harus dapat menghidupinya, atau paling kurang memberikan contoh konkret tentang menciptakan hidup yang damai.
Satu contoh yang dibuat oleh Yesus yang bangkit ialah berterus terang tentang diri-Nya, terlibat, dan menyatu dengan para Rasul dan murid-Nya. Ini sungguh menghilangkan rasa takut dan ragu yang sudah cukup menghantui mereka. Karena ketika rasa ragu, takut, curiga, kurang percaya masih ada, damai itu tidak hadir di sana.
“Ya, Bapa yang Mahakuasa, semoga Roh-Mu memenuhi kami dengan damai-Mu yang membuat kami selalu bersuka cita dan saling berbagi karunia dalam hidup kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

