“Bangkitlah, bercahayalah …! Kerahiman Allah telah tampak, dan kemuliaan-Nya menarik segala bangsa kepada Terang.”
Hari ini Gereja merayakan Terang-Nya yang dinyatakan kepada segala bangsa. Dalam peristiwa Epifani, kami melihat orang-orang Majus dari Timur, orang asing, para pencari kebenaran yang meninggalkan tanah asal mereka, dipimpin oleh sebuah bintang dan oleh kerinduan akan Allah yang Dia tanamkan sendiri di dalam hati mereka.
Mengapa mereka rela meninggalkan kenyamanan
demi menyembah seorang Raja yang bukan berasal dari bangsa mereka? Karena kerahiman-Nya menembus melampaui batas wilayah, dan cahaya kebenaran-Nya membangkitkan dahaga yang tidak dapat dipuaskan oleh kekuasaan dunia.
Orang-orang Majus melambangkan semua bangsa yang berjalan dalam kegelapan, tapi berani mempercayai terang. Melalui mereka, kami diingatkan, bahwa Israel dipilih bukan untuk menutup diri, melainkan untuk jadi cahaya bagi bangsa-bangsa, agar melalui Israel, seluruh dunia dihimpun dalam rencana keselamatan-Nya.
Kini janji para Nabi itu digenapi:
“Bangsa-bangsa akan datang kepada terang-Nya, dan Raja-raja kepada cahaya yang terbit bagi-Nya.”
Dengan mengikuti bintang yang telah dinubuatkan, para Majus berjalan menuju tongkat kerajaan yang terbit dari Yakub, menuju Mesias yang akan jadi Raja. Bukan hanya bagi Israel, melainkan Raja segala raja, Gembala yang pemerintahan dan kasih-Nya menjangkau sampai ke ujung bumi. Dalam diri Bayi ini, kemuliaan-Nya tidak lagi tersembunyi, tapi hadir dalam kelembutan dan kerendahan hati.
Injil juga menghadapkan kami pada pilihan. Herodes mendengar kabar itu dan takut kehilangan kuasa. Para Imam dan ahli Taurat mengetahui Kitab Suci, tapi tidak melangkah menuju Terang. Hanya para Majus yang bangkit, mencari, dan menyembah. Sehingga pertanyaan ini pun diarahkan kepada kami: “Apakah kami mau mengikuti tanda-tanda yang menuntun kepada Kristus, atau membiarkan sabda Allah jadi sekadar huruf-huruf mati, tanpa kuasa mengubah hidup?”
Di Betlehem, mereka tidak menemukan takhta megah, tapi seorang Bayi bersama Bunda-Nya. Dialah Putra Daud sejati, Raja yang lebih besar daripada Salomo, yang bertakhta dalam kesederhanaan dan menyatakan kuasa-Nya melalui kerahiman. Mereka sujud menyembah, mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Tanda pengakuan akan Raja, Allah, dan kasih yang rela berkorban.
Melalui Rasul Paulus, Allah menyingkapkan misteri yang lebih dalam: di dalam Kristus, semua bangsa jadi ahli waris bersama, anggota satu Tubuh, dan peserta dalam janji yang sama. Kemuliaan yang dinyatakan di Betlehem itu bukan milik segelintir orang, melainkan anugerah bagi seluruh dunia.
Bapa, seperti para Majus, kami rindu mencari Engkau dengan hati yang tulus dan terbuka. Berbicaralah kepada kami melalui tanda-tanda kehidupan sehari-hari, melalui Kitab Suci dan Sakramen, keheningan dan penyerahan diri. Saat kami datang ke altar Ekaristi, kami meletakkan persembahan kami: niat, talenta, dan seluruh hidup kami sebagai ungkapan syukur kepada Raja yang lebih dahulu mempersembahkan diri-Nya bagi kami.
Ke mana pun Engkau pimpin, Engkau berjalan di depan kami. Di mana pun kami mencari, di sana Yesus telah lebih dahulu menanti. Bimbinglah kami selalu oleh terang kerahiman-Mu, hingga pada waktunya kami boleh memandang
keindahan kemuliaan-Mu yang tak terkatakan. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

