Entah untuk yang kesekian kalinya saya gagal mencari tempat duduk yang nyaman, jika mengikuti misa di gereja. Saya telah mencoba, dari bangku belakang, lalu ke tengah, bahkan hingga pindah ke deretan bangku depan. Tapi saya tidak bisa khusuk mengikuti prosesi misa.
Saya sedih sesedihnya, bahkan hati ini serasa diiris, ketika petugas ‘tatib’ menghimbau umat, baik lewat mimbar dan papan elektronik. Tapi kurang ditanggapi oleh umat.
Banyak umat asyik bermain gadget, ngobrol, atau orangtua membiarkan anak-anak bermain, berkejaran, dan ada pula yang berteriak. Padahal mereka dihimbau untuk menjaga dan mengajak anak untuk mengikuti Ekaristi Kudus dengan khidmat.
Adakah ini, karena rasa kepedulian yang terkikis, keteladanan orangtua yang mulai menghilang dan sirna, atau anak yang susah dinasihati?
Saya tidak mau menilai, komentar, mengurai sebab untuk menemukan jawab, atau menanggapinya.
Karena saya sendiri baru belajar untuk menjadi umat Kristiani yang baik.
Saya lalu mencoba mengikuti misa dari gereja yang satu ke gereja lainnya untuk mencari suasana yang tenang dan khidmat. Tapi suasana misa tidak jauh berbeda, karena berisik. Sehingga saya tidak bisa khusuk mengikuti misa.
Padahal, jika ke gereja saya sering tidak membawa hp. Jika membawa, hp juga saya matiin. Saya juga tidak ngobrol dengan istri atau anak. Apakah suasana gereja yang berisik itu yang membuat saya tidak bisa khusuk?
Saya juga pernah urun saran pada pengurus gereja agar sinyal wi-fi diacak. Petugas tatib didisiplinkan untuk berani mengingatkan dengan hati pada umat yang ngobrol dan main hape. Ada tempat khusus bina anak, ketimbang anak dibiarkan bermain dan mengganggu umat lain. Juga umat berpuasa minimal 1 jam sebelum menerima Ekaristi Kudus. Sehingga tercipta suasana gereja yang tertib dan nyaman.
Berbeda hasilnya, jika mengikuti misa Ekaristi Kudus di tempat retreat atau pertapaan, saya dapat khusuk dan khidmat mengikutinya. Apakah karena pengaruh tempat yang sepi, hening, umat sedikit, atau …?
Saya lalu bertanya pada diri sendiri. Jika pindah rumah itu tidak mungkin, karena berkaitan dengan pekerjaan dan sekolah anak. Selain itu belum tentu saya juga betah dan kerasan tinggal di tempat yang jauh dari keramaian dan fasilitas. Lalu…?
Ketika saya sampaikan unek-unek itu pada guru spiritual, Guru Agung itu tersenyum bijak. Ia ganti balik bertanya, sesungguhnya kita ke gereja itu mencari apa?
Jika mencari Tuhan, apakah saya menemukannya? Apakah, karena suasana berisik, Tuhan menghilang dalam keramaian? Jika Tuhan tidak pergi, Ia berada di mana?
Guru Agung dengan kearifan-Nya membuka dan menjernihkan daya pikir saya. Bahwa sesungguhnya Allah bersemayam di hati kita. Allah tidak pernah pergi dari rumah-Nya, kendati suasana berisik dan ramai.
Ketika kita sembayang di gereja untuk menerima Ekaristi Kudus. Sesungguhnya kita diajak untuk membangun intimasi dengan Ilahi. Kita membuka hati dan pikiran ini agar terarah dan fokus hanya pada Allah, tidak pada yang lain.
Membangun keheningan dalam kesadaran jiwa agar kita temukan Allah yang bertahta di hati. Bersatu dalam sakramentali: Tubuh Kudus-Nya.
Semangat Paskah!
Mas Redjo

