“Ah, dia mah memang suka curhat. Kesempatan apa pun dipakai curhat.” Begitulah curhat bosku dulu tentang bosnya yang suka curhat padanya. (Fakta lucu) “dunia sudah terbalik-balik.”
“Koq mau?” kataku.
“Aku juga suka curhat sama lo. Lagian, kalau dengerin curhat aja nggak mau, orang Katolik macam apa aku ini?” sahutnya. “Gue jarang baca Alkitab, tapi ada ayat yang gue suka. Seorang sahabat menaruh kasih tiap waktu, dan jadi saudara dalam kesukaran” (Amsal 17: 17).
Iya juga. Sayangnya,… sudah terjadi pergeseran curhat, dari berbagi-rasa jadi uneg-uneg. Ada luberan rasa yang melewati ambang batas bendungan hati. Degradasi?
Kata curhat mempunyai ragam makna, ditengok dari jenis, cakupan, media, bentuk, isi, dan motifnya (opini).
Dari jenisnya ada curhat pribadi, curhat kelompok dan curhat masal.
Dari cakupannya: ada curhat antar pribadi, ada curhat komunitas (hobi atau profesi,) dan yang masal berupa group, organisasi.
Dari medianya: WatshAp, IG, Internet, khotbah, pidato, tiktok .
Dari isinya: bisa kecewa, karena kalah, gagal, atau kenyataan yang jauh dari ekspektasinya.
Dari bentuknya bisa berupa sindiran, penggiringan opini dan narasi-narasi yang provokatif.
Dari motifnya bisa baik, jahat, luhur atau ancur (hanya bisa dilihat dari buahnya).
“Good and evil both increase at compound interest. That is why the little decisions we make every day are of such infinete importance.” – C. Lewis
Kebaikan dan kejahatan keduanya tumbuh bersama. Maka keputusan-keputusan kecil yang kita buat setiap hari sangatlah penting.
Tak ada seorang pun yang sempurna dan semua pasti pernah salah dan kalah. Tapi sifat yang sulit mengaku salah dan kalah membuat mereka sulit untuk menerima diri yang tidak sempurna itu. Mengakui salah dan kalah dengan berani adalah tanda kedewasaan. Ini juga merupakan langkah penting untuk bertumbuh secara rohani.
Ingin curhat? Tuhan sudah ‘lama’ menantimu! Lembut memanggil: “Datanglah kamu yang letih berbeban berat, Aku…”
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

