Bagian 106
| Red-Joss.com | Konsep ‘suara batin’ manusia dapat dikaitkan secara erat dengan pemahaman Katolik tentang hati nurani, yang berfungsi sebagai panduan internal untuk pengambilan keputusan moral. Katekismus Gereja Katolik (KGK) memberikan kerangka kerja yang terperinci untuk memahami aspek batin dari kodrat manusia ini, khususnya dalam kaitannya dengan hukum moral, tanggung jawab pribadi, dan peran rahmat Ilahi.
- Hati Nurani sebagai Suara Batin: Katekismus mendefinisikan hati nurani sebagai “sebuah penilaian akal budi di mana pribadi manusia mengenali kualitas moral dari sebuah tindakan konkret” (KGK 1778). Definisi ini menyiratkan, bahwa suara hati bukanlah sekadar naluri atau perasaan, melainkan sebuah penilaian beralasan yang merefleksikan pemahaman seseorang akan yang benar dan salah. Melalui suara hati ini seorang dapat melihat implikasi moral dari tindakan dan keputusannya.
- Hukum Alam dan Hukum Moral: Suara hati terkait erat dengan konsep hukum alam, yang digambarkan sebagai partisipasi makhluk rasional dalam hukum Allah yang kekal (KGK 1954).
Hukum moral yang tertulis di dalam hati semua orang, memberikan dasar bagi suara batin ini. Sebuah rasa bawaan tentang benar dan salah yang membimbing individu-individu menuju kebaikan dan menjauhi kejahatan. Oleh karena itu, suara batin beresonansi dengan kebenaran hukum alam, mendorong individu untuk bertindak sesuai dengan kewajiban moral mereka. - Peran Rahmat: Katekismus menekankan, bahwa suara batin juga dipengaruhi oleh rahmat Ilahi. Roh Kudus membantu individu-individu dalam membentuk hati nurani dan mendengarkan suara hati mereka (KGK 1830). Rahmat ini memungkinkan pemahaman yang lebih dalam tentang kebenaran moral dan memberdayakan individu untuk membuat pilihan yang selaras dengan kehendak Allah. Suara batin, ketika selaras dengan Roh Kudus untuk jadi pemandu yang kuat dalam mengejar kekudusan dan kebajikan.
- Pembentukan dan Pengembangan Hati Nurani: Suara hati harus dibentuk dengan benar untuk jadi pemandu yang dapat diandalkan. Katekismus menekankan pentingnya mendidik dan menginformasikan hati nurani seorang melalui Kitab Suci, ajaran-ajaran Gereja, dan pengalaman-pengalaman iman yang dihayati (KGK 1783). Hati nurani yang terbentuk dengan baik membantu setiap orang untuk mengenali dan merespon suara hati mereka dengan jernih, yang menuntun pada tindakan-tindakan moral yang merefleksikan kebenaran Injil.
- Tanggung Jawab Pribadi: Suara hati juga merupakan panggilan untuk bertanggung jawab secara pribadi. Setiap orang bertanggung jawab atas tindakan-tindakan mereka dan harus berusaha untuk mengikuti hati nurani, yang dipandang sebagai aspek sakral dan tidak dapat diganggu gugat dari martabat manusia (KGK 1776). Suara batin menantang individu untuk membuat pilihan yang mencerminkan komitmen mereka terhadap kebenaran dan kebaikan, bahkan dalam menghadapi tekanan masyarakat atau keinginan pribadi.
Singkatnya, ‘suara batin’ manusia dapat dipahami sebagai hati nurani yang memandu pengambilan keputusan moral, yang berakar pada hukum alam dan dipengaruhi oleh rahmat Ilahi. Suara hati berfungsi sebagai aspek penting dari martabat manusia, yang memanggil individu untuk mengenali tanggung jawab moral mereka dan bertindak sesuai dengan kebenaran yang diwahyukan oleh Tuhan.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

