Bagian 105
| Red-Joss.com | Peran hati nurani dalam ajaran Katolik merupakan aspek penting dalam teologi moral, karena hati nurani berfungsi sebagai suara hati yang menuntun setiap orang untuk membedakan mana yang benar dan salah. Katekismus Gereja Katolik (KGK) memberikan penjelajahan yang rinci tentang hati nurani, menekankan pentingnya dalam pengambilan keputusan moral, pembentukannya, dan hubungannya dengan hukum moral.
1. Definisi Hati Nurani: Katekismus mendefinisikan hati nurani sebagai suara batin seorang manusia, yang di dalam hatinya tertulis hukum batin (KGK 1776). Definisi ini menyoroti, bahwa hati nurani bukan sekadar perasaan atau pendapat subjektif, melainkan sebuah kemampuan rasional dan moral yang memungkinkan seseorang untuk mengenali hukum moral dan menerapkannya dalam tindakan mereka. Hati nurani dipahami sebagai penilaian akal budi yang membantu seseorang menentukan kualitas moral dari tindakan mereka.
2 Fungsi Hati Nurani: Hati nurani memiliki beberapa fungsi penting dalam kehidupan moral:
- Penilaian Moral: Hati nurani membantu individu membuat penilaian tentang kualitas moral dari tindakan mereka. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengevaluasi, apakah pilihan-pilihan mereka selaras dengan hukum moral dan ajaran-ajaran Gereja (KGK 1778).
- Tanggung Jawab Moral:
Katekismus menekankan, bahwa setiap orang bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya, dan hati nurani memainkan peran penting dalam pertanggungjawaban ini. Seorang manusia harus selalu taat pada penilaian yang pasti dari hati nuraninya (KGK 1790). Ini berarti, ketika seorang bertindak melawan hati nuraninya yang telah terbentuk dengan baik, ia melakukan kesalahan moral, bahkan jika tindakannya mungkin terlihat dibenarkan dari sudut pandang yang berbeda.
3 Pembentukan Hati Nurani: Katekismus menggarisbawahi pentingnya membentuk hati nurani seseorang dengan benar. Katekismus ini menyatakan, Hati nurani harus diinformasikan dan penilaian moral harus dicerahkan (KGK 1783). Pembentukan ini melibatkan:
- Pendidikan: Individu dipanggil untuk mendidik diri sendiri tentang hukum moral, ajaran Gereja, dan prinsip hukum alam. Pendidikan ini membantu mengembangkan hati nurani yang terinformasi dengan baik dan membedakan yang baik secara akurat.
- Refleksi dan Doa: Terlibat dalam doa dan refleksi memungkinkan setiap orang untuk mencari bimbingan dari Tuhan dan menumbuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang tanggung jawab moral mereka.
- Konsultasi dengan Orang Lain: Katekismus mendorong individu-individu untuk mencari nasihat dari sumber-sumber yang bijaksana dan berpengetahuan, seperti ajaran Gereja, pembimbing rohani, dan para teolog moral, untuk membantu pembentukan hati nurani mereka (KGK 1785).
4. Peran Roh Kudus: Katekismus juga mengajarkan, bahwa Roh Kudus memainkan peran yang sangat penting dalam membimbing hati nurani. Roh Kudus adalah agen utama misi Gereja (KGK 737), dan melalui Roh Kudus, individu-individu itu dapat menerima ilham dan kekuatan untuk mengikuti hati nurani mereka dengan setia. Roh Kudus membantu menerangi kebenaran dan memberikan rahmat yang diperlukan untuk memilih yang baik.
5. Hati Nurani yang Keliru: Katekismus mengaku,i bahwa hati nurani dapat keliru atau salah informasi, karena ketidaktahuan, kurangnya pendidikan, atau pengaruh dari luar. Hati nurani yang baik dan murni diterangi oleh iman yang benar (KGK 1790). Oleh karena itu, setiap orang harus berusaha untuk mengoreksi hati nurani mereka, ketika menyadari, bahwa hati nurani mereka keliru, berusaha untuk menyelaraskan penilaian moral mereka dengan kebenaran Injil.
6. Hati Nurani dan Hukum Moral: Hubungan antara hati nurani dan hukum moral sangat penting dalam ajaran Katolik. Meskipun hati nurani adalah panduan pribadi, hati nurani harus diselaraskan dengan hukum moral yang objektif, yang berakar pada hukum Allah yang kekal. Katekismus menyatakan, hati nurani dapat tetap berada dalam ketidaktahuan atau membuat penilaian salah (KGK 1791), yang menekankan pentingnya memastikan, bahwa hati nurani seseorang diinformasikan oleh kebenaran moral yang diwahyukan oleh Tuhan.
Singkatnya, peran hati nurani dalam ajaran Katolik memiliki banyak segi, berfungsi sebagai panduan batin untuk pengambilan keputusan moral, sarana tanggung jawab moral, dan cerminan hubungan individu dengan Tuhan dan hukum moral. Katekismus Gereja Katolik menekankan pentingnya membentuk hati nurani seseorang melalui pendidikan, refleksi, dan ketergantungan pada Roh Kudus, untuk memastikan, bahwa hati nurani beroperasi sesuai dengan kebenaran Ilahi.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

