Bagian 112
| Red-Joss.com | Ketidaksucian dalam konteks ajaran Katolik dipahami sebagai pelanggaran terhadap keutamaan kesucian, yang merupakan keutamaan moral yang mengatur ekspresi seksualitas manusia.
Katekismus Gereja Katolik (KGK) memberikan kerangka kerja yang komprehensif untuk memahami kesucian dan kebalikannya, ketidaksucian, terutama dalam kaitannya dengan martabat manusia, hukum moral, dan sifat sakramental seksualitas manusia.
Kesucian didefinisikan sebagai integrasi seksualitas yang berhasil dalam diri seseorang, yang mengarah pada kesatuan batin antara jasmani dan rohani. Hal ini bukan hanya tentang tidak melakukan tindakan seksual, tapi melibatkan pendekatan positif terhadap seksualitas yang menghormati martabat diri sendiri dan orang lain (KGK 2337).
Keutamaan kesucian sangat penting untuk menjalani hidup yang sesuai dengan rancangan Allah bagi seksualitas manusia, yang dimaksudkan untuk diekspresikan dalam konteks pernikahan dan terbuka terhadap anugerah kehidupan.
Sebaliknya, ketidaksucian mengacu pada perilaku seksual yang bertentangan dengan nilai kesucian. Ini mencakup berbagai macam perilaku seperti percabulan, perzinahan, dan bentuk-bentuk amoralitas seksual lainnya.
Katekismus menekankan, bahwa tindakan yang tidak murni itu berdosa, sekaligus berbahaya bagi individu yang terlibat dan masyarakat luas. Secara khusus, katekismus menyatakan, bahwa “perbuatan-perbuatan daging sudah jelas: percabulan, kenajisan, ketidaksopanan” (KGK 1852), yang mengindikasikan perilaku tersebut merupakan manifestasi dari hasrat yang tidak terkendali dan menjauhkan seorang dari kebenaran seksualitas manusia.
Katekismus juga membahas implikasi dari ketidaksucian dalam hukum moral. Hal ini menegaskan, bahwa tindakan seksual harus sesuai dengan hukum alam dan harus menghormati martabat manusia. Terlibat dalam perilaku yang tidak murni dipandang sebagai penolakan terhadap perintah Allah dan kegagalan untuk menghidupi panggilan untuk mengasihi dan menghormati diri sendiri dan orang lain (KGK 2336).
Singkatnya, ketidaksucian dipahami dalam kerangka ajaran Katolik sebagai penyimpangan dari keutamaan kesucian, yang merupakan bagian integral dari kehidupan moral dan ekspresi yang tepat dari seksualitas manusia. Katekismus memberikan konteks teologis dan moral yang kuat untuk memahami implikasi ketidaksucian, dengan menekankan pentingnya hidup sesuai dengan rancangan Allah untuk hubungan manusia.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

