Bagian 110
Konsep kemalasan dapat dipahami dalam kerangka ajaran Gereja Katolik seperti yang diartikulasikan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK). Kemalasan yang sering diidentikkan dengan dosa kemalasan, bukan sekadar kurangnya aktivitas fisik, tapi, juga mencakup kemalasan rohani yang lebih dalam mempengaruhi hubungan seorang dengan Allah dan orang lain.
- Definisi Kemalasan: Katekismus mendefinisikan kemalasan sebagai sejenis kemalasan rohani yang dapat menyebabkan pengabaian tugas dan tanggung jawab seorang. Hal ini digambarkan sebagai sebuah ‘dosa besar’ yang dapat menyebabkan dosa-dosa lainnya. Karena hal ini mewakili kegagalan untuk terlibat sepenuhnya dalam mengejar kebaikan. KGK menyatakan, bahwa kemalasan dapat bermanifestasi sebagai “pengabaian terhadap tugas-tugas kenegaraan seseorang dalam kehidupan” (KGK 1866).
- Konsekuensi-konsekuensi Spiritual: Kemalasan lebih dari sekadar keengganan untuk bekerja; kemalasan mewakili kegagalan untuk mengasihi. Katekismus mengajarkan, bahwa kemalasan dapat menyebabkan hilangnya sukacita yang berasal dari melayani Allah dan sesama. Hal ini dapat mengakibatkan cinta yang tidak teratur terhadap diri sendiri yang memprioritaskan kenyamanan di atas kebaikan komunitas dan pemenuhan panggilan seorang (KGK 2094). Kegagalan untuk bertindak ini dapat menyebabkan keputusasaan, karena individu-individu dapat menarik diri dari rahmat Allah dan tanggung jawab yang menyertai iman mereka.
- Implikasi-implikasi Moral: Katekismus menekankan, bahwa kemalasan adalah sebuah dosa yang bertentangan dengan keutamaan amal. Dengan tidak terlibat dalam kebaikan, seorang tidak hanya mengabaikan pertumbuhan pribadi, tapi, juga kesejahteraan orang lain. Pengabaian ini dapat memiliki implikasi sosial yang lebih luas, karena sebuah komunitas yang terdiri dari individu-individu yang menyerah pada kemalasan dapat gagal untuk berkontribusi secara positif bagi kebaikan bersama (KGK 2095).
- Solusi dan Kebajikan: Untuk memerangi kemalasan, Katekismus menyarankan untuk mengembangkan kebajikan ketekunan dan ketekunan. Ketekunan adalah keteguhan dalam melakukan kebaikan, yang melawan kelambanan kemalasan. Praktik dari kebajikan-kebajikan ini dapat menuntun pada keterlibatan yang lebih mendalam dengan iman dan tanggung jawab seorang, menumbuhkan semangat sukacita dan kepuasan dalam pelayanan (KGK 1804).
- Panggilan untuk Bertindak: Gereja memanggil para anggotanya untuk menyadari, bahwa setiap individu memiliki panggilan dan kontribusi yang unik untuk diberikan kepada dunia. Mengatasi kemalasan melibatkan sebuah keputusan sadar untuk menerima tanggung jawab seorang dan mencari pemenuhan dalam melayani orang lain dan Allah. Panggilan untuk bertindak ini berakar pada pemahaman, bahwa kehidupan manusia adalah sebuah anugerah yang harus dilibatkan secara aktif, dan bukan hanya dialami secara pasif (KGK 1700).
Singkatnya, Katekismus Gereja Katolik menyajikan kemalasan, khususnya dalam bentuk kemalasan, sebagai sebuah masalah spiritual yang signifikan yang memiliki implikasi moral, sosial, dan pribadi. Katekismus ini mendorong umat beriman untuk memupuk ketekunan dan secara aktif terlibat dalam tanggung jawab mereka untuk membina hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan dan berkontribusi untuk kebaikan bersama. Untuk bacaan lebih lanjut, silakan merujuk pada paragraf Katekismus: 1866, 2094, 2095, dan 1804.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

