Bagian 79
| Red-Joss.com | Kaul kemiskinan adalah sebuah komitmen yang dibuat oleh individu dalam ordo-ordo religius untuk menjalani hidup dalam kesederhanaan dan melepaskan diri dari harta benda untuk meniru Kristus, yang menjalani hidup dalam kemiskinan selama pelayanan-Nya di dunia. Kaul ini dipandang sebagai cara untuk melepaskan diri dari harta benda duniawi dan lebih fokus pada hal-hal rohani serta melayani Tuhan dan sesama.
Dalam Katekismus Gereja Katolik, konsep kemiskinan dibahas dalam konteks Ucapan Bahagia, di mana Yesus mengajarkan, bahwa “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga” (KGK 2544).
Kemiskinan roh ini dipahami sebagai keterbukaan terhadap Tuhan dan melepaskan diri dari harta benda yang dapat menghalangi hubungan kita dengan-Nya. Kemiskinan rohani ini bukan berarti jadi miskin atau tidak memiliki harta benda, tapi memiliki sikap yang tepat terhadap kekayaan dan harta benda.
Kaul kemiskinan yang diambil oleh individu-individu religius melampaui kemiskinan rohani ini jadi komitmen yang lebih radikal untuk hidup tanpa kepemilikan pribadi atas harta benda. Hal ini memungkinkan mereka untuk lebih fokus pada panggilan religius dan pelayanan kepada orang lain, tanpa terganggu oleh kekhawatiran tentang kekayaan atau harta benda. Dengan meninggalkan kepemilikan pribadi, mereka yang mengucapkan kaul kemiskinan bergantung pada komunitas mereka untuk memenuhi kebutuhan material mereka dan percaya pada penyelenggaraan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Katekismus menekankan pentingnya melepaskan diri dari harta benda, dengan menyatakan bahwa “Ajaran untuk melepaskan diri dari kekayaan adalah wajib untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga” (KGK 2544). Keterlepasan ini tidak dimaksudkan sebagai penolakan terhadap kebaikan harta benda, tapi sebagai pengakuan, bahwa harta benda pada dasarnya bersifat sementara dan dapat mengalihkan perhatian kita dari tujuan akhir yaitu bersatu dengan Allah.
Singkatnya, kaul kemiskinan adalah sebuah komitmen radikal untuk hidup sederhana dan melepaskan diri dari harta benda agar dapat mendedikasikan diri secara penuh kepada Tuhan dan sesama. Ini adalah cara untuk mengikuti jejak Kristus, yang memeluk kemiskinan selama hidup-Nya di dunia, dan sarana untuk memperdalam kehidupan rohani dan hubungan dengan Tuhan.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

