Bagian 10
| Red-Joss.com | Cinta, dalam pemahaman Katolik, adalah kebajikan teologis terbesar dan penggenapan seluruh kehidupan Kristen. Ini adalah kebajikan yang dengannya kita mencintai Tuhan di atas segalanya dan mencintai sesama kita seperti diri sendiri. Cinta itu bukan sekadar emosi atau sentimen, melainkan memberikan diri dan tindakan pengorbanan dari kehendak yang mencari kebaikan orang lain.
Katekismus Gereja Katolik memberikan penjelasan yang komprehensif tentang cinta. Menurut paragraf 1822, “Amal (atau cinta) adalah kebajikan teologis yang dengannya kita mengasihi Tuhan di atas segalanya, dan sesama seperti diri sendiri.”
Cinta yang berakar pada sifat Tuhan, adalah cinta itu sendiri. Dalam Katekismus ayat 218 dinyatakan, “Kasih Tuhan adalah ‘kekal’ (Yeremia 31: 3), ‘setia’ (Mazmur 136: 26), ‘tidak dapat diubah’ (Maleakhi 3: 6), ‘tidak dapat digambarkan dan melampaui semua pengetahuan’ (Efesus 3: 19). Kasih Tuhan juga ‘paternal’ (Hosea 11: 1) dan ‘maternal’ (Yesaya 66: 13; Mazmur 131: 2).”
Cinta tidak terbatas pada perasaan atau kasih sayang yang sentimentil, tapi tindakan kemauan yang mencari kebaikan orang lain. Dalam ayat 1766 dijelaskan, bahwa mencintai adalah kehendak kebaikan orang lain. Cinta melibatkan pemberian diri dan tindakan pengorbanan yang mencerminkan kasih Kristus, yang menyerahkan hidup-Nya bagi kita.
Cinta tidak eksklusif, tapi inklusif, meluas ke Tuhan dan tetangga. Dalam paragraf 1823 dinyatakan, “Yesus menjadikan amal sebagai perintah baru. Dengan mencintai dirinya sendiri sampai akhir, Dia mewujudkan kasih Bapa yang Dia terima. Dengan saling mengasihi, para murid meniru kasih Yesus yang mereka terima sendiri. Yesus berkata: “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikian juga Aku mengasihi kamu; tinggallah dalam kasih-Ku. ‘Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu.”
Kasih itu bukan pilihan semata melainkan perintah yang diberikan oleh Kristus. Dalam ayat 182, dinyatakan, “Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ‘Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu. ‘Karena Tuhan telah mengasihi kita terlebih dahulu. Kasih itu tidak lagi sekadar ‘perintah’ semata, tapi respon terhadap karunia cinta yang dengannya Tuhan mendekat kepada kita.”
Cinta itu tidak terbatas pada mereka yang mudah dicintai, tapi juga meluas ke musuh kita. Dalam ayat 1825 dijelaskan, “Tuhan meminta kita untuk mengasihi sebagaimana Dia mengasihi, bahkan pada musuh-musuh kita, untuk menjadikan diri kita tetangga dari mereka yang jauh, dan untuk mengasihi anak-anak dan orang-orang miskin seperti Kristus.”
Cinta itu bukan tindakan soliter, melainkan hidup dalam komunitas orang percaya, Gereja. Dalam paragraf 1829 dinyatakan, bahwa “buah dari amal adalah sukacita, kedamaian, dan belas kasihan. Amal menuntut kebaikan dan koreksi persaudaraan. Kebaikan hati menumbuhkan hubungan timbal balik, persahabatan, dan persekutuan.”
Cinta dalam pemahaman Katolik adalah kebajikan teologis yang dengannya kita mengasihi Tuhan di atas segalanya dan sesama kita seperti diri sendiri. Hal itu berakar pada sifat Tuhan, melibatkan pemberian diri dan tindakan pengorbanan, hingga meluas bahkan ke musuh-musuh kita. Kasih adalah perintah yang diberikan oleh Kristus, hidup di dalam komunitas orang percaya, dan menghasilkan buah sukacita, kedamaian, dan belas kasihan.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

