“Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, jiwamu, dan dengan segenap akal budimu” (Mat 22: 37).
,,,
| Red-Joss.com | Hukum yang terutama dan pertama itu tidak sekadar jadi dasar iman, tapi juga sumber kekuatan dan inspirasiku untuk menjadi pribadi yang rendah hati.
Sesungguhnya, saya ini bukan siapa-siapa. Tapi Allah adalah segalanya.
Sadar diri, karena saya lemah dan banyak kekurangan agar saya selalu mengandalkan dan mohon penyertaan Allah dalam hidup ini.
Ketika mulai tertarik dengan gadis yang tidak seiman, saya langsung membatasi diri. Sehingga banyak teman menyalahkan dan mengolok-olok saya: sebagai lelaki paling bodoh sedunia yang tidak tahu diri. Dicintai gadis cantik yang tajir melintir, tapi menolak. Toh, kalau cinta, seorang bisa mengalah.
Tapi saya mahfum dan melihat iman gadis itu, juga keluarganya. Saya juga tidak mau memilih jalan tengah: menikah dispensasi, beda iman. Saya juga tidak mau ke depan muncul konflik atau masalah. Anak-anak jadi bingung memilih, mau mengikuti Ibu atau Ayah.
Berjaga-jaga untuk tentukan sikap itu langkah bijak, ketimbang lupa diri dan hanyut ke dalam konflik atau dililit persoalan. Akhirnya kami pisah secara baik-baik. Saya lalu memutuskan untuk aktif ke dalam komunitas.
Begitu pula saat saya bekerja di suatu instansi. Seusai pendidikan, meja kursi saya raib. Semula saya berpikir bakal memperoleh ruangan baru, karena naik jabatan. Ternyata saya salah. Saya disekolahkan itu untuk disingkirkan, karena saya tidak mau diajak kongkalingkong oleh pimpinan.
Saya kecewa, tersinggung, protes, dan marah. Tapi saya tidak mau melampiaskan emosi itu, karena percuma dan tidak ada guna. Saya membentuk tembok dan mental sendiri. Saya ingin mengadu, tapi tidak tahu ke mana dan pada siapa. Birokrasi yang buruk membuat saya akhirnya tersingkir.
Istri meminta saya untuk mengalah dan pindah kerja. Tapi hal itu tidak saya lakukan. Saya pindah berarti kalah. Jika saya bertahan, walau tanpa kenaikan jabatan, berarti saya diuji untuk setia pada iman.
Berani menerima kenyataan pahit dan mensyukurinya adalah jalan ketaatan dan kesetiaan pada Tuhan agar kita tidak menggadaikan cinta-Nya demi memperoleh aneka kemudahan dan dunia.
Saya sungguh diteguhkan oleh Yesus, ketika saya memutuskan untuk mengikuti-Nya: “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu” (Yoh 15: 18).
Sesungguhnya, kita dipilih dan diutus Yesus untuk bersaksi agar kita bahagia bersama-Nya.
“Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.”
Berkah Dalem,
…
Mas Redjo

