Hari ini kita merayakan pesta Santo Yohanes, Rasul dan pengarang Injil. Injil bercerita, bahwa Yohanes adalah adik Rasul Yakobus yang dipanggil berdua oleh Yesus saat mereka bersama Ayahnya, Zebedeus sedang melaut di Danau Galilea. Yohanes selalu tampil bertiga Petrus dan Yakobus mendampingi Yesus.
Masih dalam suasana Natal, selain kita diperkenalkan profil salib sebagai cara untuk mengambil bagian di dalam Kristus dan nantinya mencapai kemuliaan, kita juga diperkenalkan untuk mencapai kemuliaan kerajaan Allah melalui cinta yang dalam dan tak berakhir. Kita dapat katakan, bahwa cinta sejati atau ‘genuine love’ itu sangat dikaitkan dengan Santo Yohanes Rasul. Alasan yang sangat mendasari ini ialah, Injil yang ditulisnya berisi ajaran cinta kasih yang sangat mendalam. Misalnya, tentang roti hidup dan gembala yang baik, yang berisi ajaran cinta kasih yang amat dalam maknanya.
Alasan lain yang ditunjukkan Injil ialah, karena ia yang paling pertama dari kalangan Rasul dan murid Yesus yang mengerti dan percaya akan kebangkitan Yesus. Cintanya kepada Yesus amat mendalam, sehingga dalam keadaan yang sulit dan mencemaskan pun pemahaman dan imannya kepada Tuhan tidak pernah berkurang. Kekhususan Rasul Yohanes ini terungkap dalam Injil Keempat, bahwa Rasul ini adalah yang paling dikasihi Tuhan. Ini adalah suatu pandangan yang sangat kuat dan mengikat, karena ia sendiri yang menuliskan itu.
Pendapat yang lebih dapat diterima bersama ialah, bahwa dengan satu pribadi yang sangat dikasihi oleh Tuhan, tapi tak dijelaskan identitas persisnya, bermaksud untuk menunjukkan semua pengikut Kristus: entah Rasul dan murid, pria dan wanita, orang muda dan dewasa, yang sekolah atau terdidik dan tidak, orangtua dan anak-anak, semua itu adalah pribadi-pribadi yang dikasihi Tuhan. Berarti, saya pribadi dan Anda dikasihi oleh Tuhan. Setiap orang pada dasarnya berhak dikasihi oleh Tuhan yang Maha Pengasih.
Adalah sungguh indah mengalami kasih dari Tuhan yang diberikan ke kita masing-masing, dicurahkan dengan sempurna, dijamin kualitasnya sampai selamanya, dan tak bersyarat apa pun. Yang penting kasih itu datang ke dalam hidup pribadi Anda dan saya. Ketika setiap orang dalam setiap kesadarannya mengakui dicintai seperti ini, ia sesungguhnya sedang mengalami kasih yang sejati. Di dalam masa Natal ini, kiranya kita berusaha untuk menerima kasih itu dari Tuhan lebih daripada biasanya, persis pada saat-saat bersama Yesus dan keluarga Nazareth yang hidup penuh dalam kasih.
“Ya, Yesus Kristus dan keluarga Nazareth, kami ingin hidup dalam terang dan suasana keluarga-Mu yang tenang dan damai, maka anugerahkanlah rahmat-Mu ke dalam keluarga kami di dunia ini. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

