Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Lebih baik mati karena kebenaran, daripada hidup dengan kepalsuan.”
(Socrates)
…
Bangsa Morat-marit
Tulisan ini saya turunkan atas dorongan nurani suci saya sebagai sebentuk reaksi personal atas sebuah tulisan dalam harian Kompas, Selasa, (4/6/2024), Humaniora, berjudul, “Jalan Kebudayaan Saat Politik dan Hukum Buntu.
Sepintas kilas tulisan ini bernada kerisauan dan sebentuk kritisi ilmiah atas kondisi morat-marit bangsa kita.
Pendekatan lewat Jalan Kebudayaan
Sinyal kegelisahan ini dapat kita tangkap dari seruan moral Guru Besar Antropologi Hukum, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Sulistyowati Irianto yang akhirnya menawarkan sebuah pendekatan dengan menggagas jalan kebudayaan untuk mengembalikan Indonesia pada kesejatiannya.
Jalan politik dan hukum di Indonesia saat ini mengalami kebuntuan, saling mengunci satu sama lain. Lembaga negara dan lembaga hukum pun terkooptasi oleh kekuasaan.
Sementara kaum intelektual menghadapi dilemanya dan problematika sendiri yang tidak berkesudahan.
“Indonesia kembali ke masa gelap demokrasi, maka diperlukan kebudayaan sebagai alternatif untuk memulihkan Indonesia,” ujar Prof. Sulistyowati Irianto.
Selanjutnya, beliau berkata, “Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja,” menyusul berbagai peristiwa politik hukum yang melemahkan demokrasi. Baginya, pendekatan jalan kebudayaan itu mutlak diperlukan.
Bahkan di dalam kesempatan itu, Profesor Hukum ini pun masih mengutip ajaran moral dari Bung Hatta yang pernah diutarakan dalam acara Dies Natalis Universitas Indonesia tahun 1957, yakni “Apabila membentuk manusia susila dan demokratis menjadi tujuan yang terutama dari Perguruan tinggi, titik berat pendidikannya terletak pada pembentukan karakter, watak. Pangkal segala pendidikan karakter ialah cinta akan kebenaran, dan berani mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang tidak benar.”
Potret Cinta akan Kebenaran ala Socrates
Berkaitan dengan judul tulisan ini, maka alangkah baiknya, jika kita kembali menengok pada pandangan filsafati Socrates, hal cinta akan kebenaran.
Bagi Socrates, cinta adalah keinginan untuk mencapai keindahan dan kebenaran itu sendiri. Cinta bukan hanya perasaan terhadap objek (cantik/ganteng), tapi suatu keinginan kuat untuk memahami keindahan serta kebenaran itu sendiri.
Maka, beliau menawarkan model cinta agape yang adalah sebentuk cinta yang tidak didasarkan pada diri sendiri, tetapi pada keinginan untuk kebahagiaan orang lain, demikian Socrates.
Motivasi : Kerakusan serta Gila Hormat
Jika kita bersikap cermat dan jeli menggunakan nurani suci kita, maka akan tampak transparan, bahwa semua pergolakan sesat ini, hanya didasarkan atas dasar kerakusan serta sikap gila hormat yang haus akan kuasa, pangkat dan kedudukan, serta harta semata.
Sesungguhnya kekacauan dan kemerosotan kualitas hidup manusia itu justru disebabkan oleh kebobrokan karakter pemimpinnya.
Mari kembali ke akar budaya kita yang sangat menjunjung tinggi nilai luhur cinta akan kebenaran dan kebaikan sejati!
…
Kediri,ย 8ย Juniย 2024

