Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Surga ada di bawah
telapak kaki ibu.”
(Muhamad SAW)
| Red-Joss.com | Saat itu, hari Minggu, 9 Juli 2023, pukul O8.00 pagi. Seperti biasanya, saya membaca harian Kompas. Pada kolom Hiburan /Film, saya menemukan sebuah judul “Cita-cita Mulia Sang Ibu.”
Saya pun tersentak dan terharu memahami isi tulisan itu. Ada pemberontakan di dalam hati saya. โMengapa selama ini seorang Ibu selalu identik dengan dapur keluarga?โ
Elsa Emiria Leba, sang penulis, “Jika berpijak pada pandangan konservatif, pencapaian tertinggi seorang perempuan adalah menjadi seorang Ibu. Prinsip ini sayangnya kerap membelenggu keleluasaan mereka untuk mengeksplorasi kemampuan diri dalam ruang sosial. Perempuan sejatinya lebih daripada itu.”
“Tugas Ibu adalah mewujudkan mimpi kamu, bukan mimpi Ibu.” Demikian perkataan Fifi (Asri Welas), kepada sang putri, Diana (Michelle Ziudith), dalam salah satu adegan film Kejar Mimpi Gaspol.
Perkataan itu tercetus saat Diana berupaya mendorong sang Ibu untuk mengejar mimpi sebagai penulis.
Para pembaca, jika kita teringat dan mengenang para Ibu kita, apa yang tersimpan di dalam ingatan kita? Sepenggal kesetiaankah? Ataukah seorang yang cerewet dan suka mengatur? Ataukah mungkin juga, seorang perempuan karier serta pekerja keras? Atau mungkin juga sebagai seorang pengkhianat yang lupa diri? Ya, entahlah. Terserah padamu sesuai pengalamanmu.
Saya pun teringat akan jasa serta pengorbanan sejumlah Ibu hebat di bumi ini. Termasuk para Ibu hebat di negeri kita. Kita terkenang akan tokoh suci dunia, yang bergelar Santa, Bunda Theresa, sang biarawati. Si hamba Tuhan di tengah kaum marginal di bumi India. Juga, para santa : Bunda Maria, santa Monika, santa Lusia. Di negeri kita, Ibu Kartini, sang pencerah dan pembela kaum perempuan, Ibu Fatmawati, penjahit bendera bangsa kita. Juga Ibu Megawati Sukarno Putri, mantan presiden serta ketua partai politik. Tentu saja, masih banyak ibu lainnya.
Para Ibu kita, seharusnya tidak sekadar meraih posisi sebagai Ibu dapur atau tukang cuci dan setrika. Sesungguhnya, siapakah yang telah membelenggu mereka?
Zaman pingitan serta pandangan konservatif sudah lampau. Kini, para Ibu kita pun boleh bersanding sejajar para pria di kancah apa pun. Bahkan, menjadi pemimpin negara serta ketua partai politik.
Mari, kita persiapkan para putri kita untuk boleh meraih posisi terhormat, demi menggapai mimpi indah mereka.
Salam hormat, kita persembahkan kepada para Ibu!
Kediri, 9 Juli 2023

