Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jika rasa ingin tahu adalah percikan api, kepercayaan adalah perekatnya.”
(Dr. Diane Hamilton)
Dalam hubungan dengan orang lain, kita pernah bertemu dengan beberapa orang yang terasa ‘sefrekuensi’, meskipun baru bertemu. Tanpa interaksi lama, kita sudah saling mengerti. Kadang, cukup saling bertukar pandang, bisa saling memahami isi pikiran lawan bicaranya. Waktu terasa cepat berlalu, ketika sedang bersama dengan mereka, karena komunikasi terbangun tanpa perlu usaha berlebihan. Inilah yang kita sebut dengan ‘chemistry’. Demikian paragraf pertama dari tulisan Eileen Rachman & Emilia Jakob, konsultan SDM Kompas, dalam tulisan berjudul, “Chemistry di Tempat Kerja.” Kompas, Sabtu, (6/11/2025).
Apa itu Chemistry?
Chemistry adalah suatu proses kimiawi di dalam tubuh yang membuat kita merasa nyaman, senang serta ikhlas untuk membuka diri, dan bahkan sanggup bertukar pikiran tanpa ada sekat.
Pernahkah Anda mengalaminya dalam suatu perjumpaan yang sungguh menyenangkan dan terasa sangat akrab ini? Hal ini, karena adanya proses kimiawi yang terjadi di dalam tubuh kita.
Dalam setiap interaksi manusiawi akan terjadi reaksi kimia di otak manusia, demikian penjelasan dari Helen Fisher, seorang antropolog biologi.
“Bahwa di saat itu otak melepaskan zat-zat seperti dopamin, oksitosin, serotonin, dan endorfin. Semua zat ini akan memberikan rasa senang, nyaman, aman, dan percaya,” demikian Helen Fisher.
Misteri kimiawi ini telah mampu mengubah diri kita, sehingga tidak ada jarak lagi antar manusia. Jadi akan tampak sebuah suasana yang menyenangkan dan memberi semangat ekstra. Tapi, Anda jangan bermimpi misteri ini akan selalu terjadi dalam perjumpaan Anda. Mengapa demikian? Hal itu hanya akan terjadi dengan orang yang ‘sefrekuensi’ dengan kita.
Itulah sebabnya, banyak orang merasa nyaman dan akrab dengan orang-orang tertentu saja, tapi dengan orang-orang lain tidak terjadi demikian.
Kecerdasan Intelektual (IQ) bukanlah Segalanya
Dalam konteks ini, juga ditegaskan, bahwa kenyamanan ini, tidak didasarkan atas kecerdadan nalar, melainkan yang paling aman secara psikologis, demikian Amy Edmondson dari Harvard University.
Jadi, dalam hal ini, karena adanya faktor rasa nyaman adalah aspek penyebabnya. Seketika itu rasa bimbang, ragu, atau takut itu akan lenyap. Aspek yang paling dominan, justru terletak pada ‘sensitivitas interpersonal’ dan bukan karena kecerdasan.
Penghalang Chemistry
Dalam konteks realitas hidup kita, tidak selamanya kita menjumpai suasana senyaman ini. Karena akan ada gangguan yang datang berupa, asumsi-asumsi, dan sikap cepat menghakimi yang menghalangi kerja chemistry. Sehingga rusaklah suasana nyaman dan aman itu. Mengapa demikian? Otak manusia itu langsung bereaksi dengan menutup diri yang berdampak tertutupnya kontak-kontak kimia itu.
Konklusi
Pada akhirnya, yang membuat kita bertahan di dalam kebersamaan hidup ini, tidak hanya karena proyek hidup yang sukses atau target yang tercapai, tapi juga karena hadirnya orang-orang yang membuat hidup kita terasa nyaman.
Refleksi
- “Jika rasa ingin tahu adalah percikan api, kepercayaan adalah perekatnya.
- “Kerendahan hati dan ketulusan adalah obat paling mujarab.”
Kediri, 7 Desember 2025

