| Red-Joss.com | Saya kaget, sungguh sekaget-kagetnya, ketika gadis itu berani menembakku tanpa tedeng aling-aling.
“Saya tertarik, bahkan mungkin jatuh cinta pada Mas….”
Lho?! Saya amati gadis cantik itu. Apa saya salah dengar?
Saya tersenyum, tidak menanggapi, tapi mahfum. Gadis milenial makin berani, memang. Ceplas ceplos, tidak ragu-ragu, dan tanpa basa-basi.
Jika dulu, umumnya laki-laki yang suka nembak, mengemukakan isi hati pada gadis pujaannya. Kini? Zaman telah berubah.
Dia tertarik padaku? Dia ngeprank. Hati ini juga tidak berdebar-debar. Saya tidak mau ge-er.
“Kau salah alamat, salah mengenali orang. Karena kau tidak tahu siapa saya ini.”
“Saya tahu, siapa sesungguhnya Mas … eh, Romo ini,” kata gadis itu sambil tersenyum manis.
Saya terperangah. Jika mengenali, kenapa dia seberani, dan selancang itu. Siapa sesungguhnya dia? Saya mencoba mengingat-ingatnya, tapi wajahnya itu tampak samar, dan tidak mengenalinya.
Jujur, saya sedih, dan miris. Tidak seharusnya kata itu terucap dari mulutnya. Seharusnya, baik Romo dan umat itu saling menjaga dan membatasi diri. Sekaligus saling mengingatkan agar tidak kebablasan.
“Mas Romo lupa dengan saya?” tanya gadis itu lirih.
Saya bengong. Saya amati gadis itu dengan seksama. Tapi ingatan saya ngeblang. Tidak ingat sama sekali.
“Ya, maklum. Dulu kita pernah sekelas waktu es-em-pe. Tapi saya pindah, karena ikuti tugas Bapak,” katanya ceria, mengingatkan.
“Kau, Dian …?!”
“Yup! Mas Romo ingat, kan…”
Kami tertawa.
Terbentang dalam bayangan cinta kanak-kanak. Lalu menghilang ditelan kesibukan dan waktu.
“Mas Romo tugas di sini?”
“Ya. Mana keluargamu?”
“Saya mau menyusul Mas Romo.”
“Maksudmu?”
“Ya, ceritanya panjang. Saya telah putuskan untuk menanggapi panggilan-Nya.”
“Selamat, ya!” kata saya sambil menjabat tangan Dian.
“Terima kasih. Kita mempunyai kekasih yang sama. Kita mempelai Kristus.”
Kami pun berpisah. Karena siang itu saya didapuk untuk memberi serasehan Membangun Rumah Tangga Kristiani yang bahagia di aula gereja.
…
Mas Redjo

