“Cry, forgive, learn, move on. Let your tears water the seeds of your future happiness.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Coba bayangkan saat ini, ketika kita memegang pensil yang utuh, ideal, indah, runcing, dan sangat berguna untuk menggambar dan menulis. Sebuah pensil yang sangat ideal. Lalu pensil itu kita patahkan menjadi dua. Pilihannya jelas, pensil itu dibuang, karena tidak bisa digunakan dan tidak berguna lagi.
Begitulah pula dengan hidup kita. Ketika semua baik, ideal, dan lancar tanpa beban. Hidup ini terasa bahagia.
Kenyataannya hidup ini selalu penuh dengan kejutan, persoalan, dan masalah. Bahkan kadang yang ideal dan nyaman itu bisa patah dalam sekejap. Patah, hancur, dan berada pada titik terendah. Akhirnya harapan pun hilang, seolah hidup ini tidak ada guna lagi.
Sama seperti pensil yang patah jadi dua itu, yang seolah tidak berguna. Mungkin juga bukan salah kita pensil itu patah. Tapi pensil itu tetap berguna, ketika kita mau mencari cara untuk memanfaatkannya.
Memang butuh waktu, cara, dan proses menyakitkan, ketika kita mampu meruncingi pensil itu kembali dengan rautan. Bisa jadi yang ideal itu hanya kita yang mampu menggunakan dengan baik.
Ada pelajaran berharga tentang pensil itu yang dapat dipetik,ketika nasib kita sedang hancur dan berada di titik terendah. Kehancuran itu tidak akhir segalanya, tapi justru awal dari pembaharuan diri. Kita tetap berharga, dan bisa menjadi berkat bagi sesama. Karena kita berbeda dan berguna.
Sesulit apapun keadaan kita dan seberapa diri ini hancur, ketika kita bangkit untuk berjuang dari keterpurukan. Kita tidak menyerah, tapi berjuang untuk perbaiki diri untuk menjadi lebih baik.
Sesungguhnya yang membuat kita berharga itu bukan dunia, tapi Tuhan Sang pencipta. Karena kita secitra dengan-Nya.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

