Calon Mantu โ 23 | Oleh Mas Redjo
Red-Joss.com | “Bagaimana usahanya Pak Jo, ramai?”
“Disyukuri saja supaya nikmat. Kalau yang jelek diceritain nanti Pak Hasan bosen untuk dengarnya,” komentar saya.
“Bisa saja!”
“Benar kan, Pak?”
Pak Hasan tertawa.
“Apa yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Pak Hasan.
“Banyak pekerjaan saya yang tertunda, tapi belum ada kepastian kapan selesainyaโฆ,” saya berhenti sejenak melihat reaksi Pak Hasan.
“Yang bener, Pak Joโฆ,” Pak Hasan kurang percaya.
“Coba Bapak tanya pada Wen, berapa order saya belum selesai. Bahkan cukup banyak. Saya ingin kejelasannya,” kata saya tenang. Pak Hasan mengernyitkan kening. Ia melemparkan pandang ke arah Wen.
“Maaf, sekiranya akhir-akhir ini saya kurang kontrol. Padahal pekerjaan kita tidak banyak. Masalahnya ada saja. Mesin rusak, karyawan nggak masuk, karena ada saudaranya yang kawinan, hingga sulitnya bahan,” cetus pak Hasan.
Saya tidak membantah sekiranya biji plastik menghilang dari pasaran. Sistem kartel yang tidak tersentuh oleh pemerintah. Karena fungsi kontrol dan pengawasan lemah. Apa yang tidak mustahil di negeri antah berantah ini? Daging sapi yang pengadaannya dari sumber yang sama : Australia, kenyataannya di negeri Jiran mampu menjual lebih murah 50%. Siapa yang peduli?
Selanjutnya baca di Calon Mantu – 23 | Cerdik seperti Ular dan Tulus seperti Merpati

