| Red-Joss.com | Sewaktu kecil, saya pantang lewat jalan yang gelap dan sepi, apalagi yang minim penerangan. Tidak berarti penakut, tapi saya dituntut untuk ekstra waspada dan hati-hati.
Jalan gelap dan sepi itu rawan tindak kejahatan. Saya juga tidak bisa melihat dengan jelas. Takut kaki ini terantuk batu, terperosok lubang, atau menginjak ular.
Jika ada teman mengolok-olok, bahwa saya cemen dan penakut, saya tanggapi dengan senyuman. Saya juga pantang diajak bermain “maling-malingan” dalam gelap. Bermain ala maling, wajah ditutupi dengan kain sarung, lalu sembunyi, atau memanjat pohon yang cukup tinggi.
Padahal memanjat pohon di malam hari itu berbahaya. Salah pegangan cabang yang kering atau getas itu mudah patah, jatuh, dan berakibat bisa fatal.
Alasan saya menolak main maling-malingan itu sederhana, karena, jika kelak besar saya takut jadi maling beneran.
Sesungguhnya, sejak kecil saya dibiasakan oleh orangtua untuk jauhi pikiran negatif agar tidak jadi kenyataan. Berpikir hal jelek dan negatif, jika tidak terkontrol dengan baik bakal terucap lewat kata dan perilaku. Itu bahaya, memalukan, dan aib.
Saya melihat banyak bukti, berpikir dan bicara yang jelek atau negatif itu sering jadi fakta, kenyataan.
Teman semasa kecil yang senang bermain maling-malingan dalam gelap, ternyata, ketika besar jadi maling beneran. Main pat gulipat proyek, dan korupsi berjamaah.
Teman yang bicara tidak punya uang, rezekinya jadi seret. Usaha yang lesu dan selalu dikeluhkan, jadi ratapan, macet atau bangkrut.
Orang yang biasa berpikir negatif itu sesungguhnya hidup dalam gelap dan menyukai kegelapan. Tidak berani bersikap jujur dan benar, karena hatinya dipenuhi tipu daya dan kepalsuan.
Berbeda dengan orang yang biasa berpikir positif, karena hidupnya selalu optimistis. Ia menatap masa depan dipenuhi oleh harapan, iman, dan kasih. Masa depan yang cerah dan gemilang.
“Selalu cari jalan padang, ya, Le,” nasihat Bapak, ketika saya hendak merantau ke Jakarta.
Jalan padang, jalan terang yang dimaksud Bapak adalah agar saya berperilaku jujur dan benar dalam menjalani hidup. Karena seberat dan sesulit apa pun deraan hidup itu agar iman saya tidak silau atau goyah, meski digoda yang jahat: harta, tahta, dan wanita. Iman yang kokoh, karena dilandasi kejujuran, kebenaran, dan mudah bersyukur adalah cerminan pribadi yang dikasihi Allah.
Untuk selamanya, kegelapan itu tidak berkuasa atas terang.
Jadilah terang dunia!
…
Mas Redjo
…
Foto ilustrasi: Istimewa

