“Membandingkan diri dengan orang lain melahirkan minder, membandingkan diri sekarang dengan yang kemarin melahirkan kepercayaan.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Minder, tidak PD, Kuper, Cupu, Ndeso kadang lebih ganas dari virus Corona. Bukan hanya mengakibatkan rendah diri, tak percaya diri, bahkan kadang berakhir bunuh diri. Keadaan itu semua bermula dari kita yang senang membandingkan. Kita merasa banyak kekurangan, tidak cantik/ganteng, tidak pandai, wong ndeso dan banyak lagi litani kekurangan diri.
Itulah cara pandang salah melihat diri, keadaan atau situasi dan potensi. Coba sekarang sama-sama kita mengambil gelas untuk diisi dengan air putih setengah. Lalu angkat, dan perhatikan! Ada yang bilang itu setengah penuh, gelas setengah, gelas setengah kosong. Menurut Anda kira-kira itu setengah kosong? Apa setengah penuh? Bagi saya gelas di tangan Anda dan saya bukan setengah penuh, atau setengah kosong. Lalu? Gelas itu sangat penuh! Kok bisa?! Sangat penuh dengan dua komponen udara dan air. Yang mau saya katakan adalah cara pandanglah yang memberbedakan.
Setiap manusia itu dilahirkan dengan membawa kelebihan dan kekurangan. Karenanya jangan pernah anggap remeh diri sendiri. Jangan pula membandingkan diri dengan orang lain. “If you compare your self with others you get bitter, but if you compare with your self, you get better.” Artinya kalau Anda selalu membandingkan diri dengan orang lain, ya, hidup akan pahit. Hidup selalu susah dan menderita. Tapi, jika membandingkan diri kita sekarang dengan kemarin. Saat itulah kita akan terpacu untuk menjadi lebih baik lagi. Dari impossible menjadi possible.
Ubah cara pandang kita, buatlah hidup lebih hidup. Potensi dan talenta telah Tuhan kasih tidak usah nyogok atau beli. Semua itu gratis! Tinggal menyadari, menggali, dan tekun mengembangkan diri. Buat potensi dan talenta ini berakar, bertumbuh dan menghasilkan buah. Maka hidup akan menjadi indah.
Berani ke luar dari zona nyaman, karena dalam zona nyaman itu tidak ada pertumbuhan. Teruslah bertumbuh, meski tidak nyaman. Karena dalam zona pertumbuhan pasti tidak nyaman. Selalu ada kegagalan, tantangan, cibiran, dan jatuh bangunnya. Ingat kita berharga, dan yang membuat berharga bukan penilaian manusia tapi penilaian Tuhan sendiri. Jadilah diri sendiri, sukses, dan bahagia.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

