“Kita dikenalkan orangtua dengan calon pasangan itu biasa, tapi dipersatukan dalam kasih Allah itu anugerah terindah.” -Mas Redjo
…
Ketika dikenalkan dengan calon pilihan orangtua, saya menghargai pilihan dan etiket baik mereka. Hal ini tidak identik saya langsung acc. Karena kecocokan itu soal hati, dan Allah yang menyatukan.
Jika saya lalu ke luar bersama Mas G itu tidak berarti kencan, tapi sekadar untuk menyenangkan hati orangtua, tidak yang lain.
Padahal saya dengan Mas G yang anak tunggal itu mempunyai ikatan kekerabatan. Tujuannya untuk makin mendekatkan hubungan keluarga, dan agenda yang lain adalah harta keluarga tidak jatuh ke pihak luar.
“Bagaimana sikap Dik In dengan rencana orangtua kita,” pancing Mas G tenang, menembak langsung ke hati ini, membuat saya jadi grogi dan berdebaran.
“Menurut Mas sendiri?” saya balik bertanya, dan berusaha bersikap tetap tenang. Mas G diam, lalu menyeruput teh jeruk hangatnya.
Jujur, dari hati kecil saya mengakui, Mas G itu ganteng, ramah, dan tajir. Gadis mana yang tidak tertarik padanya?
Saya akrab dan dekat dengan Mas G itu seperti kakak dan adik sendiri. Sejak mengikuti “retret panggilan OMK,” saya makin tertarik dan ingin mengenal lebih jauh untuk hidup membiara. Karena selama retret itu hati saya diliputi perasaan damai dan bahagia. Tuhan Yesus seperti memanggil saya…
Sedang bersama Mas G, hati ini adem. Bahkan tidak ada pijar aneh, apalagi korslet. Saya mengormati Mas G, karena ia juga lebih tua.
“Menurut saya… itu, mah konyol!” kata Mas G akhirnya. “Maaf, seperti zaman baheula saja.”
Saya tersenyum, mengiyakan.
“Mas mengajakmu ke luar, karena juga mau minta maaf agar semua cepat tuntas,” Mas G menatap saya dengan tajam, membuat saya jadi salting. “Lebih baik kita sebagai kakak beradik,” tandasnya serius.
“Mas…?!” saya tercekat. Kaget, tapi lega.
“Ya. Lebih baik Mas jujur padamu. Cukup lama saya merenungkan hal ini untuk mengambil keputusan. Bahkan orangtua kita belum tahu,” kata Mas G sambil menghela nafas panjang.
“Maksud Mas…?!”
“Mas berdoa memohon pada Allah agar dilimpahi rahmat panggilan. Kini Mas memutuskan untuk hidup membiara, dan kau yang pertama kali Mas beri tahu. Karena desakan orangtua kita itu harus diputuskan.”
Saya melongo, tanpa sepatah kata. Tapi hati ini terasa plong, dan lega sekali.
“Serius, Mas?” tanya saya gembira. Mas G mengangguk mantap. “Saya juga mau memberi tahu Mas. Sejak mengikuti retret panggilan, saya pun tertarik untuk membiara.”
“Jadi…?!” Mas G tidak kalah kaget. Saya manggut. Mas menggemgam erat tangan saya. Sorot matanya cerah sumringah.
“Kita dipilih Tuhan Yesus untuk jadi mempelai-Nya.”
Kami berpandangan dan tersenyum lega. Kami lalu beranjak pulang.
Di mobil kami berdoa agar orangtua merestui jalan panggilan kami untuk hidup membiara; jadi mempelai-Nya.
…
Mas Redjo

