Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hai siapahkah engkau,
pemilik Surgakah kau?”
(Didaktika Hidup Sadar)
Antara “Homo Homoni Socius Versus Homo Homini Lupus”
Secara antropologis, manusia itu adalah makhluk berjiwa sosial yang hidup berdampingan dengan sesama yang lain. Bahkan kita telah mengenal adagium berbahasa Latin lewat tulisan Plautus, yakni “Homo homoni socius est” artinya “Manusia yang satu adalah kawan bagi yang lain.”
Namun fakta hidup ini justru membuktikan, bahwa idealisme yang bernada humanis ini, telah dihadang oleh realitas lain yang juga sungguh sangat menantang di dalam masyarakat kita. Bukankah nyata pula, bahwa dunia kita telah menunjukkan taring culasnya, lewat adagium, “Homo homini lupus est,” artinya “Manusia yang satu adalah serigala bagi yang lain.”
Bukankah realitas yang sungguh menantang ini, yakni antara fakta hidup yang ‘pahit dan manis’ ini, justru bermula dari dalam hati kita manusia? Bukankah bibit-bibit racun maut yang mematikan ini, justru bersarang dan bersumber dari dalam hati manusia? Dari dalam hati manusia itu segala bibit kejahatan bermula.
Buta Hati dan Buta Mata
“Jika hatimu jahat, maka akan jahatlah seluruh tubuhmu” (dirimu), demikianlah seruan dari sang kebijaksanaan sejati. Karena bukankah hati adalah pusat dari seluruh kesadaranmu?
Jadi sungguh logis, jika dikatakan bahwa, karena “hatimu itu buta, maka otomatis butalah matamu.” Bukankah kedua organ tubuh: rohani – jasmani itu memang tidak dapat dipisahkan? Karena bukankah ‘mata tubuhmu’ itu akan mengekspresikan sesungguhnya ‘isi hatimu?’
Maka, “jika mata hatimu buta, maka akan butalah mata tubuh jasmanimu.”
Fenomena dalam Realitas Hidup
Jika kita hidup dengan sungguh sadar, maka mata hati kita akan menyadarkan kita, bahwa hidup kita ini sejatinya bergelimang masalah.
“Hai, Siapakah Engkau. Pemilik Surgakah Kau?”
Inilah sebuah lontaran pertanyaan retoris yang mau mendeskripsikan, bahwa sesungguhnya hidup kita ini memang sedang berkemelut. Mengapa dan ada apa?
Ketika manusia menumpahkan rasa kecewa dan putus asa, di saat menghadapi realitas, bahwa ada sesamanya yang bertindak dan bersikap seolah-olah dirinya atau kelompoknya itu sebagai pemilik serta pemegang kunci gerbang Surga.
Ketika sekelompok orang berwajah sangat bringas sambil tanganya diacung-acungkan ke angkasa, sambil berteriak kesetanan, dengan memorak-porandakan sebuah rumah makan atau toko minuman keras, maka tersobeklah keutuhan nurani suci kita dan tencederailah kedamaian hidup kita.
Mereka telah bertindak dengan sangat anarkis yang justru dianggapnya sebagai sebuah kebenaran, karena tindakan itu dilakukannya justru atas nama Tuhan. Mereka tidak tega menghancurkan bangunan ibadat atau rumah warga yang dianggapnya sebagai bermasalah atau melanggar peraturan ketertiban lingkungan dan mengatasnamakan Tuhan dan agamanya.
Sayang Seribu Sayang
Sebuah tindakan agresif sebagai dampak dari ‘kebutaan hati dan kebutaan mata’ adalah sebuah ekspresi liar dari: kepicikan, kedangkalan, kefanatikan, ketololan, kekerdilan, dan kepalsuan. Karena bukankah hanya orang-orang bodoh dan dungu yang dapat bertindak demikian?
Mari kita kembali menyelami ke kedalaman sumber air kehidupan kita!
Kediri, 13 Juli 2025

