Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Aku datang untuk
melayani dan bukan
untuk dilayani.”
(Amanat Yesus Kristus)
Memberi dan Memberi
Seorang pemuda yang lugu selalu merasa resah di dalam hidupnya. Dia sungguh ingin merasakan, bagaimana indahnya kebahagiaan itu.
Di suatu hari ia mendatangi seorang bijaksana dan mengajukan sebuah pertanyaan, “Tuan, apa dan bagaimana caranya agar saya bahagia di dalam hidup ini?”
Sang bijaksanawan itu berkata, “Jikalau engkau sungguh ingin bahagia, maka tidak ada cara lain, selain daripada memberi. Segeralah engkau memberi dan membagikan yang kau miliki itu kepada orang yang membutuhkan uluran tanganmu.”
Kisah Mulia Burung Pelikan Afrika
Ada sebuah dongeng dari Afrika tentang mulianya tindakan seekor burung pelikan atau burung undan.
Tatkala di wilayah itu diserang bencana kelaparan yang sangat hebat dan dampaknya banyak manusia dan hewan yang jadi korban, maka tidaklah demikian dengan seekor induk burung pelikan.
Ia terus berikhtiar dan berani terbang ke sana ke mari demi mencari makanan untuk menghidupi anak-anaknya. Setiap hari ia berusaha agar tak seekor anaknya yang akan mati, karena kelaparan.
Namun, di suatu hari ia sungguh sadar, bahwa ia tidak menemukan lagi makanan. Apa yang dibuatnya?
Dengan paruhnya, ia mematuk dadanya. Di saat percikan darah merah segar mengucur dari dadanya, maka segera anak-anaknya itu mengisap darah dari dada induknya. Mereka akhirnya dapat hidup; sekalipun induknya mati terkulai, karena kehabisan darah.
(Willi Hoffsuemmer)
1500 Cerita Bermakna
Didaktika Hidup Mulia
Lewat kisah inspiratif dan heroik dari keunggulan dunia kebinatangan ini, kita dapat memetik sebuah amanat, betapa mulianya sebuah upaya dan pengorbanan hidup bagi sesama manusia.
Lewat kisah burung pelikan ini, disodorkan sebuah ironi kepada kita. Karena bukankah betapa rakusnya manusia di zaman yang serba gonjang-ganjing ini? Di sisi yang lain, betapa luhurnya naluri kebinatangan yang telah mampu menganvaskan naluri kemanusiaan kita.
Hukum Kehidupan
Hukum kehidupan telah mengajarkan kita, bahwa kebahagian sejati itu, justru diperoleh setelah Anda sanggup membahagiakan orang lain.
Maka, sungguh berbahagialah dia yang sanggup memberikan nyawanya bagi kebahagiaan dan kehidupan sesamanya.
Kediri, 10 April 2025

