Hari ini seluruh Gereja merayakan Hari Raya Maria Bunda Allah, sebuah perayaan besar untuk Bunda yang dirayakan pada hari ke-8 setelah kelahiran Yesus Kristus. Pada hari ke-8 kelahiran-Nya ini juga, Yesus untuk pertama kali menumpahkan darah-Nya melalui ritual sunatan sesuai adat istiadat setempat. Bunda-Nya, Maria tentu sebagai orang yang paling bertanggung jawab untuk merawat luka pada Putra-Nya, dan bagi anak bayi sangatlah sakit. Ibunda pasti berulang kali melap darah yang ke luar selama luka masih belum sembuh.
Darah merupakan simbol sangat kuat untuk menghubungkan seorang Ibu dengan anaknya. Rahim Ibu yang dihuni anak selama dalam kandungan memperlihatkan suatu hubungan darah yang tidak terpisahkan antara keduanya, dan itu jadi sangat jelas, ketika bayi itu dilahirkan, ia bermandikan darah Ibunya sebelum menikmati dunia baru di luar tubuh Ibunda.
Maria dan para Ibu senantiasa memperlihatkan betapa hubungan darah itu berlanjut sampai anak itu tumbuh jadi besar dan dewasa. Bunda Maria menikmati hidup penuh dengan darah bersama Putra-Nya, khususnya selama di kaki salib di Golgota dan saat memangku jenazah Yesus Kristus, la pieta.
Para Ibu kita di dunia, tentu saja bersama suami atau Bapa kita, merasakan betapa sakit di tubuh mereka jika anak-anaknya menderita. Darah mereka bagai mengalir deras tanda tidak tahan dengan penderitaan itu. Betapa mereka bersuka cita saat anak mereka bahagia, saat darah dalam tubuh mereka bersirkulasi baik, sehingga mereka tampak ceria dan senang. Betapa susah senang anak-anaknya di dunia membuat darah mereka tenang, rendah, dan naik. Darah itu yang menyatukan Ibu dan anak, sehingga hubungan ini pada prinsipnya hanya dapat diputuskan oleh kematian. Ini semua menggambarkan, bahwa seorang Bunda itu berhati keibuan. Wanita yang melahirkan kita itu keibuan, karena kasih dan perhatiannya kepada kita yang dapat disejajarkan dengan Tuhan Allah yang mencintai kita ciptaan-Nya.
Di hari istimewa untuk merayakan Maria Bunda Allah, kiranya hati kita semua penuh dengan sukacita dan bersyukur. Natal yang mempertemukan kita dengan Yesus dan Keluarga Nazareth, membuat sukacita kita penuh dan kita ingin membawanya sepanjang satu tahun ke depan.
Kita mesti memulai tahun ini dengan sukacita dan optimisme, dan itu adalah isi Injil yang akan kita wartakan. Figur Bunda yang keibuan, pada dasarnya pada diri wanita, sangat sentral dalam hidup kita. Maka kita mesti bersyukur sangat mendalam, karena Tuhan amat baik memberikan karunia Bunda, Ibu, dan wanita kepada kita. Hidup kita tak bisa jadi hidup yang sesungguhnya, kalau tidak mempunyai seorang Bunda yang keibuan.
Bunda Maria adalah Ibu kandung rohani kita semua yang sudah mendapat martabat putra dan putri Allah atau saudara dan saudari Yesus Kristus. Bunda Maria menolong kita untuk melepaskan manusia lama kita demi mengenakan manusia baru dalam diri kita, yaitu sebagai orang-orang milik Yesus Kristus.
“Ya, Bapa yang Maha Baik, terima kasih berlimpah atas karunia Bunda Allah dan Ibu kami masing-masing, jadikanlah kami anak-anak yang selalu setia pada ibu kami dan tetap mendoakan mereka. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

