“Di kaki salib, Maria berdiri teguh. Air matanya bersatu dengan darah Kristus, agar kita belajar mencintai dengan setia.”
Allah Bapa, kami mengenang Bunda Maria yang berdiri di kaki salib Putra-Mu. Dengan hati yang tertusuk pedang duka, ia bersatu penuh dalam sengsara Kristus, tetap percaya bahwa rencana-Mu tidak pernah gagal.
Pemazmur berseru: “Tuhanlah kekuatanku dan perisaiku.” Itulah juga pegangan Maria. Meski hatinya hancur, ia tidak lari, tapi tetap teguh berdiri, percaya pada kasih yang lebih besar daripada penderitaan.
Yesus menyerahkan Maria kepada Yohanes, dan melalui Yohanes, kepada kami semua. Ia jadi Ibu Gereja, Ibu bagi setiap orang yang mau hidup dalam Kristus. Seperti Yohanes yang membawa Maria ke dalam rumahnya, kami mau membawa Maria ke dalam hidup kami, dengan meneladan iman, kesetiaan, dan kasihnya.
Ya Tuhan, Engkau memanggil kami untuk saling mendoakan, seperti ditulis Santo Paulus: agar setiap orang mengenal kebenaran dan diselamatkan. Kami percaya, bersama doa-doa Bunda Maria, setiap jeritan hati kami Engkau dengarkan.
Bunda Maria yang berdukacita, ajarlah kami berdiri teguh di tengah penderitaan, tidak menyerah pada kesedihan, tapi tetap percaya pada kasih Allah. Doakanlah kami, agar dalam segala kesulitan, kami ikut serta memanggul salib bersama Putramu.
“Ya, Yesus, bersama Bunda-Mu kami berkata: “Jadilah kehendak-Mu.” Semoga dari salib-Mu lahir hidup baru dalam diri kami. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

