| Red-Joss.com | Dalam perjalanan pulang dari Kota Agung ke Jakarta, kami singgah di Gua Maria La Verna, Padang Bulan, Pringsewu.
“Sepi!” Karena hari biasa dan tidak dalam bulan peziarahan seperti Mei atau Oktober, tapi hening sekali untuk berdoa.
Saya googling cari makna kata ‘la verna’ dan yang saya temukan adalah musim semi, ada juga tanggung jawab. Tidak tahu mana yang benar, namun keduanya memiliki konotasi positif: “Siapa pun juga yang bertanggungjawab pada hidupnya (seperti sosok Bunda Maria), dia akan hadir bagaikan tetumbuhan pada musim semi, segar, dan baru.
‘La Verna’ yang sekaligus memiliki Rumah Retret dan Gua Maria, telah lama jadi salah satu destinasi rohani paling dikenal di wilayah Lampung untuk berdevosi kepada Bunda Maria.
Istilah ‘devosi’ berasal dari bahasa Latin ‘devotio’ (dari kata kerja devovere), yang berarti kebaktian, pengorbanan, penyerahan, sumpah, kesalehan, cinta bakti. Jadi devosi menunjuk sikap hati & perwujudannya, di mana seorang arahkan diri kepada seseorang atau sesuatu yang dijunjung tinggi dan dicintai.
Bagi umat Katolik, Bunda Maria memiliki tempat yang sangat istimewa, karena erat dan lekatnya relasi Maria dengan Yesus, Tuhan dan Juru Selamat umat manusia. Maria adalah fakta sejarah dan fakta iman bagi gereja (Bdk Matius 15:28 tentang iman Ibu yang minta kesembuhan anaknya).
Iman Maria pada Yesus sebagai Tuhan tak tergoyahkan, bahkan ketika Maria memangku Yesus saat diturunkan dari Salib (pieta).
Kedekatan umat Katolik dengan Bunda Maria sering disalah maknai oleh umat non Katolik sebagai menuhankan Maria. Salah! Gereja Katolik menghormati dan mencintainya, tetapi tidak pernah menyembahnya sebagai Tuhan. Tidak pernah dapat disangkal, Yesus lahir ke dunia lewat Maria dan tumbuh bersamanya. Tidak pernah umat Katolik menyesal sudah mencintainya sebagai Ibu Tuhan.
Hal yang sangat menarik, kami disambut oleh seekor anjing yang kata tukang sapu namanya ‘kepler’ (yakin saya salah dengar). Ketika kami turun ke Gua Maria, anjing itu berjalan mendahului kami. Lalu duduk di antara kami dan Gua Maria (seperti turut berdoa). Ketika kami selesai berdoa dan naik ke tempat parkir, ‘kepler’, yang gemuk, bersih, dan halus bulunya, berjalan mendahului kami. Setelah itu kami tak tahu dia pergi ke mana. “Terima kasih ‘kepler’ telah menemani kami berdoa.”
Para sahabat: “Biarlah orang lain berkata apa tentangnya, tapi tetaplah dekat dengan Bunda. Bukan untuk minta berkat, tapi berterima kasih, karena kesediaan Maria lahirkan Yesus membuat kita bersaudara dalam iman.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

