Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Buku tidak saja sebagai jendela dunia, tapi juga sebagai pendidik”
(Didaktika Hidup Sadar)
…
| Red-Joss.com | Kini, bangsa kita sedang berada di zaman ‘untuk bermimpi besar dalam meraih predikat sebagai bangsa berliterasi’, di saat negara-negara dan bangsa besar lain sudah unggul dalam spirit berliterasi serta bernumerasi (PISA).
Kita Berbudaya Bicara
Bangsa kita adalah bangsa yang menganut faham ‘berbicara’ dan bukan sebagai bangsa yang berbudaya membaca.
“Buku sebagai Pendidik”
Sejatinya buku itu sebagai pendidik kita. Juga sebagai pendidik bagi generasi baru kita. Bagaimana caranya dan mengapa demikian?
Buku adalah sarana berupa media belajar yang sangat relevan, terbuka, kaya ide, dan aneka informasi edukatif lainnya.
Kita sudah lazim mendengar dan memahami sebuah adagium aktual, bahwa buku adalah jendela dunia.
Tapi apa makna sentralnya? Karena di balik dan lewat media buku, Anda dan saya dengan leluasa dapat dan akan menjelajahi dunia ini.
Pendidik Hebat Berada di Balik Buku Ini
Sadarkah kita, Anda dan saya, bahwa di saat membaca dan menekuni sebuah buku, sejatinya kita sedang berjumpa dengan seseorang?
Kita juga sedang berpapasan dan bersua lewat aneka gagasan, kata-kata, harapan dan kecemasan, karakter serta keunikan, filosofi, serta budaya dari sang penulisnya?
Bukankah dari dalam atau lewat isi serta pesan dari buku itu, kita dapat menimba berbagai informasi yang sungguh mengayakan jati diri kita?
Kita dapat mengenal siapa penulisnya, karakter, dan keunikannya di dalam berbahasa. Bahkan kita dapat menyerap ilmu dan pengetahuan baru lewat isi buku itu.
Di dalam konteks ini, kita akan kian diperkaya dan diteguhkan, bahkan dapat diterampilkan lewat amanat dari isi buku itu.
Di sisi lain, kita secara tidak langsung dapat belajar untuk memahami gaya bahasa dan keunikan karakter penulisnya.
Bukankah dengan banyak membaca buku sebagai si ‘kutu buku’, yang sanggup berotodidak, Anda telah menjadi seorang pembelajar sejati?
Itulah ciri khas pribadi dewasa ialah lewat ketekunan untuk menggali ilmu pengetahuan lewat proses membaca buku.
Lewat cara pendekatan intelek itu, sejatinya sebuah buku telah berperan sebagai pendidik bagi Anda dan saya.
Mari sebagai warga dari bangsa besar ini, agar kita rela untuk membudayakan diri dengan kebiasaan membaca.
Membaca dan teruslah membaca, hingga malaikat maut datang menjemput Anda!
…
Kediri, 26 Juni 2024

