RedJoss.com – Apa reaksi kita, ketika dipuji?
Wow, keren, hebat …! Kita menjadi terkaget-kaget hingga sukma ini serasa melayang, atau sebaliknya kita malu hati dan semakin rendah hati.
Coba rasakan dan resapi reaksi hati ini.
Bangga itu jelas. Siapa sih, yang tidak bangga, ketika dipuji, dihargai, bahkan dihadiahi?
Bangga itu tidak salah, asal secukupnya. Berbeda masalahnya, jika kita membanggakan diri. Hal itu yang harus disikapi dengan bijak.
Ketika pujian serasa membius dan membuat jiwa ini mengangkasa, kita harus waspada agar tidak lupa diri dan menjadi tinggi hati alias sombong.
Orang sombong itu menghambat pergaulan. Bahkan kesombongan merupakan awal kejatuhan dan kehancuran kita sendiri.
Sebaliknya, pujian yang disyukuri sebagai anugerah Allah, tidak membuat kita membusungkan dada, tapi mengempiskannya.
Kita sadar diri, sehebat atau setinggi apapun prestasi kita, semua itu atas berkatNya.
Sifat sombong itu dapat kita atasi, jika kita berani menjadi pribadi yang rendah hati.
Dalam setiap perbincangan, cobalah untuk menghindari topik yang menonjolkan diri, baik prestasi atau hasil pencapaian kita. Bahkan, sebisa mungkin untuk mengalihkan pembicaraan ke hal yang sifatnya lebih umum.
Hujan pujian itu tidak akan membuat kita terlena dan jatuh, jika kita sadar diri. Sebab mempertahankan prestasi itu lebih sulit ketimbang kita mempertahankannya.
Pujian itu ibarat memanggul beban. Ketika pujian itu berasa ringan, kita menjadi mudah menaiki anak tangga ke puncak kesombongan. Sebaliknya jika pujian itu berasa berat, kita hendaknya menjadi pribadi yang rendah hati.
Bayangkan dan rasakan. Jika pujian itu ibarat orang menginjak kepala ini, sehingga kita segera menuruni anak tangga pujian agar kepala tidak berasa berat dan sakit.
Semoga kita dimampukan belajar ilmu padi, semakin merunduk
semakin berisi. (MR)
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

