“Saat Allah mendekat, rahmat-Nya selalu mengetuk hati, tapi hanya pribadi yang rendah hati yang mengenali-Nya.”
Sabda Allah menyingkapkan kesedihan terdalam dari hati Yesus. Ketika Ia mendekati Yerusalem, kota suci yang selama berabad-abad merindukan Mesias. Ia tidak larut dalam sorak-sorai orang banyak. Sebaliknya, Ia menangis. Karena umat-Nya “tidak mengenal saat Tuhan mengunjungi mereka.” Mereka berharap Raja yang perkasa, tapi Ia datang sebagai Raja Damai. Mereka menginginkan kemenangan atas bangsa-bangsa, tapi Ia menawarkan kemenangan atas dosa. Mereka terpukau akan kemegahan Bait Allah, tapi tidak mengenali Allah yang berdiri di hadapan mereka.
Ketika Allah mengunjungi Israel, ada pribadi yang memilih setia pada perjanjian, meski harus membayar harga yang tinggi; tapi ada pula yang bertekuk lutut pada tekanan dunia. Pemazmur berseru, bahwa “Allah yang bersinar dari Sion itu memanggil, mengundang umat-Nya: untuk mempersembahkan syukur dan percaya. Sesungguhnya Allah selalu hadir, tapi hati kami tak selalu siaga.”
Tuhan Yesus yang menangisi
Yerusalem mengajar kami, bahwa belas kasih-Nya bukanlah kasih yang dingin dan jauh. Melainkan kasih yang memperingatkan, mengundang, dan merindukan keselamatan bagi semua orang. Ia memasuki kota itu dengan sadar, bahwa salib sudah dekat, tapi keinginan-Nya tetap satu: agar semua orang melihat “apa yang membawa kepada damai.” Ia ingin mereka dan kami semua mengenali karya Bapa dalam keseharian hidup.
Ya, Bapa, Engkau memberi kami banyak pilihan dalam hidup, dan kebebasan untuk memilihnya. Tapi di balik semua keputusan harian kami, selalu ada pertanyaan yang lebih dalam dan kekal: “Apakah kami akan mengasihi dan melayani Engkau, atau menjauh dari-Mu?”
Segala sesuatu di dunia dapat berlalu, bahkan yang paling indah dan memukau itu. Tapi hanya Engkau yang tetap. Hanya kehendak-Mu yang jadi dasar kokoh yang tidak goyah.
Ajarlah kami, Tuhan, untuk mengenali kunjungan-Mu: dalam suara hati yang lembut, pencobaan yang memurnikan, kesempatan mengampuni dan melayani, dalam firman-Mu yang kami dengarkan, dan terutama dalam ‘Ekaristi’, tempat Engkau datang secara pribadi, setia, dan penuh kelembutan.
Bukalah mata kami, Tuhan. Lepaskan keterikatan yang sia-sia. Bangkitkan hati yang peka. Berilah kami ketulusan dan kesatuan hati untuk mencari bukan yang gemerlap dunia, melainkan kemuliaan Kerajaan-Mu. Kami memilih Engkau, dan dengan memilih Engkau, kami memilih hidup, damai, dan dasar yang tidak akan runtuh.
Sebab Engkaulah Tuhan dan Raja kami, yang hidup dan berkuasa bersama Bapa dan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

