RedJoss.com – Kasih ibu kepada beta,
tak terhingga sepanjang masa.
Hanya memberi, tak harap kembali,
bagai sang surya, menyinari dunia.”
Kita tidak bakal lupa dengan lirik lagu di atas. Kasih Ibu kepada anak-anaknya yang hanya memberi, dan memberi. Bukan meminta. Kasih Ibu tanpa pamrih. Tulus dan ikhlas.
Sekiranya kasih Ibu itu kita ejawantahkan dalam hidup keseharian, dijamin hidup kita damai, sejahtera, dan bahagia.
Jangan menunda, atau beralasan kita berbagi, ketika hidup kita telah mapan dan kaya.
Berbagi itu tidak melulu soal materi. Kita bisa berbagi dengan berbela rasa, berempati, dan senyuman. Lewat tatapan mata yang mengasihi, mulut yang berkata-kata baik, mendoakan, dan berbagi tenaga alias ringan tangan untuk menolong.
Berbagi itu juga tidak dinilai dari besar kecilnya pemberian, melainkan dari perhatian yang tulus dan ikhlas.
Coba amati, wajah orang yang kita tolong itu. Rasakan dalam hati. Syukuri, karena kita berani untuk berbagi. Kita dianugerahi rahmat Allah, dan bahagia.
Memberi dengan ikhlas itu muncul dari motivasi dan niat baik. Bukan dari basa basi ben diarani, tapi dari kemurnian hati.
Berbagi dan memberi itu baik, asalkan kita tidak menina-bobokan yang diberi; kenyamanan karena biasa diberi yang membuat orang itu lupa diri. Bergantung sepenuhnya pada yang memberi.
Lihat, seperti benalu yang tumbuh di pohon itu. Bagaimana reaksi kita melihat benalu itu? Benalu yang bergantung makanan dari pohon lain.
Benalu itu tak beda dengan budaya orang yang biasa meminta, karena tergantung pada orang lain. Apa reaksi orang yang biasa ndremis itu, jika tidak diberi? Ada yang jiwanya terluka, sakit hati, membenci, atau bisa juga mendendam pada si pemberi!
Berbagi, memberi itu baik asalkan pemberian itu senantiasa dievaluasi agar tidak menjadi sifat ketergantungan orang lain. Memberi dengan kasih yang mendidik dan mengarahkan agar orang itu menjadi mandiri.
Budaya minta-minta itu membuat kita kehilangan martabat. Sebaliknya, budaya memberi membuat hidup ini lebih terhormat, karena kita menjadi saluran berkat Allah. (MR)
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

