Memaafkan. Itu hal sepele. Terucap di mulut, lalu selesai. Semua seperti menjadi baik kembali. Kenyataannya tidak semudah dan sesederhana itu. Memaafkan itu butuh keberanian dan kebesaran hati. Banyak di antara kita yang berasa sulit, bahkan gagal untuk memaafkan orang lain. Kita memberi maaf, tapi sebatas di mulut, basa basi, terpaksa, dan melakukan dengan berat hati….
Kategori: BUDAYA
Semangat Hidup itu Api Jiwa
Hidup itu menyala. Ibarat api semangat dan penerang jiwa yang membawa kita untuk kembali kepada Sang Pencipta. Sekalipun topan badai kehidupan datang menerjang, nyala api itu harus dijaga agar tidak padam. Begitu pula dengan hidup kita.Hidup yang berasal dari rasa memiliki, karena kita telah diberi dan dianugerahi Allah untuk kita pertanggung-jawabkan kepadaNya. Jika boleh diibaratkan,…
Ketika Suntuk, Carilah Keheningan Agar Jiwa Ini Disegarkan
Gegara bekerja keras, kita mudah terserang suntuk. Pikiran ini serasa buntu, tubuh loyo, dan semangat hidup merosot. Ketika dihinggapi perasaan suntuk, kita sering menjadi salah tingkah, gelisah, dan tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa. Seakan semua berasa serba salah dan membosankan. Secara otomatis, produktivitas kerja kita juga menurun. Untuk memulai bekerja kembali, kita seperti…
Memprovokasi Hati, Jika Gagal, Sebaiknya Hati Itu Dioperasi
Tiba-tiba Nyong ingin menjadi provokator. Gegaranya adalah Nyong gemes dengan diri sendiri. Hati Nyong teramat lemah, loyo, bahkan tidak mampu menolak dan berkata ‘tidak’ pada rayuan orang. Hati Nyong selalu menanggapi dan menjawab, “iya”, dan mengiyakan. Apa gegara hati ini tidak mau menyinggung atau menyakiti perasaan orang lain? Kenyataan itu jelas mengusik dan mengganggu pikiran…
Ketika Semua Serba Salah, Kita Mencari yang Benar
Maju mundur salah, nyerong ke kiri-kanan salah, dan diam juga salah. Lalu, ke mana dan dengan cara apa kita mencari untuk menemukan yang benar? Pernah mendengar kisah Nasaruddin bersama anaknya dan seekor keledai? Keledai dinaiki berdua, dibilang keterlaluan. Dinaikin bapaknya atau oleh anaknya saja, dibilang bapak atau anak yang tak tahu diri. Bahkan ketika keledai…
Jika Dunia Ini Panggung Sandiwara, Apa Peran Kita?
Dunia ini panggung sandiwara, dunia kita yang sesungguhnya. Apapun peran kita itu harus dijalani, disyukuri, dan nikmati sebagai anugerah Allah. Bergonta ganti peran, bersandiwara itu hal biasa. Apa jadinya, jika hidup ini sekadar untuk bersandiwara dan berpura-pura? Kura-kura dalam perahu, hati orang siapa tahu. Itulah yang tersembunyi di balik topeng kita sendiri. Tidak perlu menyangkal,…
Membangun Kepercayaan, Fondasinya Pelayanan
Hidup ini ibarat membangun rumah. Besar kecilnya rumah, disain, dan bahan materialnya sepenuhnya bergantung kita. Kekokohan rumah dipengaruhi oleh kualitas bahan, pengerjaan yang akurat, dan fondasi yang kuat. Begitu pula dengan kita. Ibaratnya, kita hidup untuk membangun rumah masa depan. Tempat rindu istirah, setelah kita jalani peziarahan. Hidup yang harus kita pertanggung-jawabkan pada Allah yang…







