RedJoss.com – Apa relevansinya “Membangun relasi mengedepankan nurani” dengan filosofi Jawa tuna sathak bathi sanak dalam dunia usaha di masa pandemi seperti ini?
Sangat erat, saling terkait, saling melengkapi, dan keduanya tidak dapat dipisahkan. Apalagi di saat pandemi ini, di mana dunia usaha tengah terseok-seok.
Budaya tuna sathak bathi sanak, jika diterapkan dengan kesungguhan hati dan sebagai dasar berwirausaha, dijamin usaha itu mampu menghadapi gempuran pengusaha kapitalis dan pemodal kuat.
Filosofi Jawa tuna sathak bathi sanak, yang berarti “merugi sejumlah uang, tetapi beruntung mendapat saudara” itu nyaris hilang tergerus pandemi.
Ditambah lagi, kelangkaan minyak goreng, kedelai, dan melonjaknya harga kebutuhan pokok yang nyaris tidak terkendali.
Faktanya, kearifan lokal masyarakat Jawa itu mudah ditemukan dan kuat bertahan dalam menghadapi persaingan global dan kejam.
Coba lihat di seputaran kampus di daerah Jogya. Kita dengan mudah menjumpai para pedagang yang menerapkan hubungan didasar nilai luhur kegotongroyongan. “Membangun relasi mengedepankan hati nurani.” Untung sedikit, yang penting bertambah persaudaraan, dan usaha tetap berjalan.
Sesulit dan seberat apapun beban hidup ini, jika kita saling peduli, menguatkan, dan bersatu padu, maka dijamin kita mampu melewati badai pandemi dengan selamat.
Saatnya kita bangkit, bersatu padu, dan bergandengan tangan untuk membangun Indonesia hebat! (MR)
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

