“Menghidupi budaya malu dan bertanggung jawab agar hidup ini menghasilkan buah-buah kebaikan.” -Mas Redjo
…
Awalnya adalah saya diminta Mbak untuk mencuci pakaian sendiri. Gara-garanya, saya bermain hujan, dan pakaian seragam jadi kotor. Saya harus bertanggung jawab!
Mbak tidak kompromi, meski saat itu saya kelas 1 smp. Tujuan Mbak yang sebenarnya adalah agar saya mandiri. Berani berbuat itu harus berani bertanggung jawab.
Saya harus mencuci baju di sungai, karena waktu itu sedikit warga yang memasang air PAM. Termasuk, rumah yang mempunyai sumur sendiri.
Dituntut mandiri dan bertanggung jawab pada diri sendiri itu membuat saya tidak berani berbuat sesuka hati, seenak ‘dhewe’. Karena saya harus menanggung konsekuensinya juga.
Seiring saya bertambah jadi nalar, ternyata Mbak mempunyai maksud luhur, yakni saya dituntut bersikap jujur, bijaksana, dan rendah hati agar tidak dipermalukan diri sendiri.
Intinya adalah, ketika berbuat salah, kita harus jujur untuk mengakui, meminta maaf, bertanggung jawab, berubah, dan memperbaikinya agar jadi baik.
Hal itu mengingatkan saya dengan semangat ‘bushido’ orang Jepang yang menjunjung tinggi kesetiaan, kehormatan, keberanian, dan keteguhan hati, bahkan berani mati demi menjaga nama baik.
Ketika saya melihat aneka peristiwa yang berseliweran di medsos, hati ini jadi sedih miris. Banyak orang asal bicara tanpa dipikir lebih dulu. Ternyata mereka telah memutus urat malunya sendiri. Bahkan budaya malu itu telah dijadikan alas kakinya sendiri!
Miris dan tragis!
…
Mas Redjo

