“Nama ‘Bubur Peyek’ ini jangan dikaitkan dengan lagu ‘Iwak Peyek’ yang ngetop itu. Meski asing di telinga, tapi untuk rasa tidak kalah dengan bubur yang lain.” -Mas Redjo
Jujur, saya sendiri juga baru hari ini mendengar istilah ‘Bubur Peyek’. Tidak sekadar merasa asing, tapi saya melongo, ketika sepupu saya, PL main ke toko. Ia cerita tentang ‘Bubur Peyek’ yang enak, gurih, dan rasanya nendang bikin ketagihan.
Janjian dengan sepupu yang ingin ke toko, saya bergegas membelikan camilan kesenangannya. Tapi saya kecewa, ternyata camilan itu tidak disentuhnya. Sebaliknya ia nyengir sambil garuk-garuk kepala yang membuat saya jadi bengong dan penasaran.
“Tumben, biasanya sebungkus langsung tandas,” gurau saya. PL nyengir. “Kenapa? Takut disuruh bayar?”
“Ndak, Mas. Tidak seperti dulu lagi. Ngicipin sepotong ngobatin pingin,” kilah PL kikuk, lalu memamerkan giginya yang ompong.
“Ya, maklum. Udah tuwek,” ledek saya memojokkan, lalu bergelak. “Kalau pengin makan peyek kacang jadi diemut sehari semalam, ya.”
“Ya, ndak begitu. Tapi ditumbuk di cobek, untuk toping bubur. Ditaburin di aras bubur, dijamin rasanya nendang,” kata PL berpromosi.
PL tidak menyentuh, atau tepatnya makan peyek kacang, sejak banyak giginya yang rusak dan ompong.
Hal yang sama dialami oleh sepupu saya yang tinggal di Parakan, Temanggung. Meski mereka lebih muda dari saya, tapi banyak giginya yang ompong. Mereka biasa ngemil peyek kacang, karena orangtua penggoreng dan penjual peyek?
Jika pengin makan peyek kacang, PL mengikuti jejak sepupu saya yang di Parakan, Temanggung. Peyek kacang itu ditumbuk hingga halus, lalu ditaburkan ke atas bubur. Di kampung PL dikenal sebagai Bubur Peyek Kacang.
Rasanya dijamin joss dan jadi ketagihan. Tertarik mencobanya?
Mas Redjo

