Karya Allah untuk menyelamatkan manusia dari dosa yang memuncak pada kehadiran Putra Allah jadi manusia di dalam Yesus Kristus. Karya nyata Ilahi ini jadi tema besar untuk direnungkan terus-menerus di dalam hati setiap orang beriman, dan khususnya makin kuat di dalam masa Prapaskah.
Hal itu untuk memperkuat iman kita akan peristiwa Yesus Kristus yang dirayakan pada hari Paskah. Kita merayakan Paskah, yang dipersiapkan melalui Prapaskah, mengalami suatu keistimewaan dengan berpartisipasi dalam peristiwa Kristus. Yesus senantiasa menegaskan prinsip pengorbanan diri-Nya yaitu demi melakukan kehendak Bapa sampai tuntas di dunia ini. Pengorbanan itu menandakan betapa setiap dari kita bukan sekadar umat atau pengikut-pengikut-Nya, tapi sebagai saudara-saudari-Nya sendiri. Ia berkata, bahwa cinta yang paling besar ialah pengorbanan diri seseorang demi kebaikan dan keselamatan saudara-saudarinya.
Kita sebagai anak-anak Allah melalui Sakramen Pembaptisan dan juga jadi putra-putri-Nya terkasih memiliki martabat istimewa, yaitu satu persaudaraan dengan Yesus Kristus. Bersama Dia, kita menyapa Allah di Surga sebagai Bapa yang jadi milik bersama. Semua pengikut Kristus mempertegas persaudaraannya dengan Yesus, martabatnya sebagai putra-putri Allah, dan dalam memperlakukan Allah sebagai seorang Bapa. Ungkapan hubungan yang intim ini kita doakan senantiasa di dalam doa “Bapa Kami.”
Di dalam masa Prapaskah, tentu kita berdoa “Bapa Kami” dengan kualitas iman yang terbaik, sebagai salah satu bentuk disiplin dalam praktik kesalehan kita. Doa ini menegaskan persaudaraan kita dengan Kristus, ketika bersama dengan Dia, kita menyapa Allah sebagai ‘Bapa’ kami. Dari sekian banyak doa ini yang diucapkan dalam satu hari menandakan, kalau Bapa yang satu di dalam Surga membuahkan karunia-Nya di dalam diri kita semua yang tetap dekat dengan Dia, karena persekutuan kita dengan Yesus Kristus.
Kelimpahan buah di dalam diri kita tetap dijamin oleh karunia firman Allah yang hadir untuk menerangi, menguatkan, dan membaharui hidup setiap orang beriman. Yesus tidak hadir lagi dalam tubuh-Nya saat ini, tetapi di dalam firman-Nya. Melalui firman itu, kita masing-masing bertumbuh dan berbuah, khususnya dalam bentuk doa-doa yang menyatukan kita dengan Bapa di Surga. Doa itu mengungkapkan yang kita lakukan dalam berpuasa, seperti mengampuni dan menahan diri agar tidak jatuh ke dalam pencobaan. Melalui doa pula kita ungkapkan niat untuk berbuat baik kepada sesama.
“Bapa yang Mahabaik, utuslah Roh-Mu untuk membantu kami berdoa seperti Yesus Kristus. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

